Konstruksi Media – Tim Kuliah Kerja Nyata dan Pengabdian Masyarakat (KKN Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sebuah inovasi berupa mesin pemipil jagung otomatis. Ini bertujuan untuk membantu para petani di Desa Patung, Gresik yang masih memipil jagung secara manual hingga memakam waktu yang cukup lama dan menguras waktu serta tenaga setiap musim panen jagung tiba.
Ketua Tim KKN Abmas Prof Dr Eng Harus Laksana Guntur ST MEng mengungkapkan, bahwa kawasan Gresik merupakan kabupaten penghasil jagung nasional. Tak ingin menyia-nyiakan potensi tersebut,solusi efektif terus dicari.
“Hingga akhirnya kami bersama tim sepakat menggagas alat pemipil jagung otomatis ini,” kata Harus dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 Oktober 2021.
- Per 3 April 2025, Hutama Karya Catatkan 122,24% Kenaikan Volume Kendaraan Lintasi JTTS
- Menteri Dody Tinjau Lokasi Usulan Pembangunan Sekolah Rakyat di Jatim
- KAI Logistik Hadirkan Jasa Pengiriman Hewan Peliharaan Ekspres
Harus menjelaskan, pemipil jagung otomatis ini dirancang khusus dengan menggunakan mesin diesel yang terkenal andal untuk beban berat serta bahan bakarnya yang mudah didapatkan. Selain itu, alat ini juga dilengkapi oleh transmisi belt-pulley dan mekanisme perontok yang bisa diatur ukuran dan kapasitasnya sesuai kebutuhan.
“Transmisi belt-pulley sendiri berfungsi meneruskan dan mereduksi kecepatan mesin diesel ke roller perontok jagungnya,” ucapnya.
Alat ini, kata dia, memiliki kapasitas produksi sebesar 1.200 hingga 1.500 kilogram per jam. Sedangkan kecepatan maksimum yang dihasilkan mencapai 1.500 rotasi per menit dengan daya sebesar 1,5 kW/7,5 HP.
“Alat ini memiliki berat mencapai 30 kilogram dengan dimensi 720x620x510 milimeter,” ujar Harus.
Menariknya, mesin ini bisa digunakan untuk memipil jagung dengan ukuran yang berbeda-beda, baik besar, sedang, hingga halus sekalipun dengan bentuk jagung yang rapi dan tidak rusak. Menurut Harus, kemudahan dalam pengoperasiannya merupakan salah satu tujuan agar siapa saja dapat menggunakan alat ini.
“Di samping itu, alat ini dapat dipindah-pindahkan dengan mudah, mengingat mesin ini bermotor diesel,” tutur Harus.
Dengan adanya mesin pemipil jagung ini, Harus merasa masyarakat Desa Petung dapat memaksimalkan produktivitasnya sebagai petani jagung. Di sisi lain, bonggol jagung yang dihasilkan usai proses pemipilan dapat diolah warga setempat untuk menjadi pakan ternak, bahan bakar, hingga kebutuhan lainnya.
Kegiatan KKN Abmas ini telah berlangsung selama enam bulan, sejak awal Mei 2021 lalu. Secara rinci, kegiatan ini terdiri dari survei potensi dan kebutuhan petani di bulan Mei, perancangan dan drawing alat pada bulan Juni-Juli, dan proses fabrikasi di bulan September. Sebelum dihibahkan kepada warga setempat, dilakukan uji fungsi teknis di awal September.
“Dan terakhir, kami lakukan serah terima dua unit alat pada 22 September lalu,” kata Harus.
Pada saat penyerahan hibah alat itu pula, dilakukan serangkaian sosialisasi dan diskusi kepada para petani jagung dan perangkat Desa Petung. Tak hanya itu, tim KKN Abmas ITS juga melakukan demo dan uji coba pengoperasian alat di depan para petani jagung.
“Kami melihat antusiasme warga sangat baik, bahkan kami diminta menggagas alat lain seperti pengupas kulit kuaci untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka,” ucapnya.
Kegiatan yang terdiri dari delapan dosen dan tenaga kependidikan serta 11 mahasiswa ini diketahui mengalami banyak kendala, seperti sulitnya koordinasi antara teknis dan lapangan karena penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), beberapa waktu lalu. Meski begitu, Harus bersyukur sebab kegiatan ini akhirnya dapat berjalan dengan lancar.
Nantinya, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pascasarjana Teknik Mesin ITS ini menargetkan dapat menggagas mesin pemipil jagung sejenis dengan kapasitas yang lebih besar. Selain itu, Harus berharap dapat menciptakan startup untuk membantu proses hilirisasi atau komersialisasi alat ke petani di seluruh wilayah Jawa Timur.