Konstruksi Media – Institut Teknologi PLN (ITPLN) menerapkan teknologi kompor biomassa di Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, Bogor, untuk menekan biaya operasional dapur dan mengurangi ketergantungan pada LPG.
Program ini dijalankan oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pascasarjana ITPLN dengan memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan di lingkungan pesantren sebagai bahan bakar. Limbah organik tersebut diolah menjadi biomassa yang digunakan untuk memasak kebutuhan harian santri.
Ketua Tim PKM Pascasarjana ITPLN, Dhami Johar Damiri, mengatakan penggunaan kompor biomassa mampu menurunkan biaya bahan bakar secara signifikan. Berdasarkan hasil uji coba, biaya energi dapur dapat ditekan hingga 56 persen.
Baca Juga:
Inovasi Jalan Paving Block, Dosen ITPLN Tommy Iduwin Raih Gelar Doktor UI
“Biaya bahan bakar yang sebelumnya setara sekitar Rp3.840 per kilogram dapat ditekan menjadi sekitar Rp1.680 per kilogram dengan menggunakan biomassa,” ujar Dhami dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).
Kompor Biomassa Relevan Digunakan di Pesantren

Menurut Dhami, kompor biomassa merupakan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan di lingkungan komunitas, termasuk pesantren, tanpa memerlukan investasi besar. Model ini dinilai relevan sebagai bagian dari upaya transisi energi berbasis masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, ITPLN menyerahkan 10 unit kompor biomassa kepada pesantren. Selain itu, ITPLN juga memberikan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi bahan bakar, pendampingan operasional, serta edukasi lingkungan kepada santri.
Baca Juga:
Cetak Inovator Muda, ITPLN Gelar Turnamen Robotika ‘Robodrive Motion Clash’
Program ini diharapkan dapat membantu pesantren mengelola limbah organik secara mandiri sekaligus menekan biaya operasional dapur. ITPLN menilai pendekatan berbasis komunitas ini dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya transisi energi nasional.




