Konstruksi Media – Institut Teknologi PLN (ITPLN) terus memperkuat peran teknologi geospasial sebagai kunci dalam mendukung masa depan energi bersih di Indonesia. Komitmen ini ditunjukkan melalui gelaran Geography Seminar Series ke-2 bertema “Dari Data ke Daya: Optimalisasi Energi melalui Teknologi Geospasial” yang berlangsung di kampus ITPLN, Selasa (7/4/2026).
Rektor ITPLN, Iwa Garniwa, menegaskan bahwa teknologi geospasial kini menjadi instrumen penting dalam menjawab tantangan sektor energi yang semakin kompleks, terutama dalam hal efisiensi, akurasi, dan keberlanjutan.
“Melalui integrasi berbasis lokasi, teknologi geospasial memungkinkan identifikasi potensi energi baru terbarukan, perencanaan distribusi yang lebih tepat, hingga pemantauan infrastruktur secara real-time,” ujar Iwa.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis data spasial tidak hanya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, tetapi juga berkontribusi dalam menekan dampak lingkungan, sejalan dengan agenda transformasi energi nasional.
Sebagai bagian dari ekosistem PLN, ITPLN memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul di bidang energi dan teknologi. Kegiatan seminar ini pun menjadi ruang kolaboratif antara akademisi dan praktisi industri untuk memperkuat kompetensi mahasiswa.
Baca juga: Saat Dies Natalis ke-28, PLN Targetkan ITPLN Tembus Level Internasional
Dalam forum tersebut, General Manager PLN UIT JBB, Himmel Sihombing, menyoroti pentingnya teknologi geospasial dalam pengelolaan aset kelistrikan yang semakin kompleks.
“Semakin banyak dan kompleks aset kelistrikan, maka kita harus mengetahui secara presisi lokasi setiap aset. Di sinilah peran geospasial menjadi sangat krusial,” jelasnya.

Menurut Himmel, teknologi ini memungkinkan pemetaan akurat terhadap berbagai infrastruktur kelistrikan, mulai dari gardu induk, jaringan transmisi, hingga pembangkit listrik, guna memastikan keandalan sistem secara menyeluruh.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa teknologi geospasial juga menjadi fondasi penting dalam mendukung transisi energi menuju target net zero emission Indonesia pada 2060. Dengan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil, dibutuhkan data spasial yang akurat untuk optimalisasi pengembangannya.
“Sumber energi terbarukan tersebar luas, termasuk di wilayah remote. Kita harus mengetahui lokasi dan potensinya secara tepat, dan geospasial menjadi kunci utama,” tegasnya.
Seminar ini turut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional Bono Pranoto, Engineer PT GPS Lands Indosolutions Sondang Riski Wanti Sihombing, serta akademisi ITPLN Widya Soviana. Diskusi dipandu oleh dosen geografi ITPLN Yetti Anita Sari.
Melalui kegiatan ini, ITPLN menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan talenta dan inovasi di sektor energi, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri dalam menghadapi tantangan transisi energi nasional. (***)
