HeadlineINFOInfrastrukturJembatanNews

ISSC Siap Bantu Bangun 100 Jembatan Bailey Pascabencana, Budi Harta: Putra Bangsa Mampu, Tak Perlu Impor

ISSC mampu bergerak bersama untuk memproduksi jembatan tersebut tanpa harus mengandalkan impor dari luar negeri.

Konstruksi Media – Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) Budi Harta Winata menegaskan kesiapan industri baja nasional untuk mendukung rencana pembangunan 100 jembatan Bailey pascabanjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurutnya, seluruh anggota ISSC mampu bergerak bersama untuk memproduksi jembatan tersebut tanpa harus mengandalkan impor dari luar negeri.

“Kalau pemerintah membutuhkan 100 jembatan Bailey, kami siap. Semua anggota ISSC bisa bergerak bersama. Putra bangsa ini mampu dan sanggup membuat Bailey Bridge sendiri,” ujar Budi Harta Winata, Selasa (30/12/2025).

Pernyataan tersebut menanggapi rencana pemerintah akan membeli 100 jembatan Bailey dari luar negeri untuk mendukung penanganan bencana. Jembatan tersebut direncanakan dipasang di berbagai daerah terdampak, termasuk Aceh, Sumut, dan Sumbar, dengan target pemasangan rampung pada Februari 2026.

Budi Harta menilai, secara kapasitas dan pengalaman, industri baja nasional sebenarnya telah lama siap mendukung kebutuhan jembatan darurat. Bahkan, ia mengingatkan bahwa pada periode 10–20 tahun lalu, Kementerian Pekerjaan Umum pernah mendorong setiap fabrikator besar untuk memiliki stok minimum jembatan Bailey sebagai antisipasi kondisi darurat.

“Dulu konsepnya jelas, setiap fabrikator diminta punya stok 2–3 unit Bailey untuk emergency. Saya tidak ingat sejak kapan konsep ini berhenti dijalankan,” ungkapnya.

Menurut Budi Harta, apabila setiap fabrikator besar memiliki stok satu hingga dua set jembatan Bailey, maka ISSC dapat menghimpun total stok nasional mencapai 50 hingga 100 unit. Dengan kesiapan tersebut, industri dalam negeri dapat langsung merespons kondisi darurat tanpa menunggu proses impor.

Baca juga: Pemerintah Percepat Pemasangan Jembatan Bailey untuk Pulihkan Akses Vital Banda Aceh–Medan

“ISSC bisa mengoordinasikan anggota. Kalau satu fabrikator memproduksi satu Bailey dalam satu sampai dua minggu, tinggal dibagi dalam beberapa grup. Ada yang memproduksi batang dengan spesifikasi yang sama agar cepat, lalu saling berbagi komponen,” jelasnya.

Ia menambahkan, ISSC siap menawarkan kepada pemerintah bahwa dalam waktu dua minggu, stok jembatan Bailey produksi dalam negeri sudah bisa tersedia dan siap dipasang di lokasi bencana.

“Kalau stok lokal siap, kami bisa ikut tender dan langsung menang karena ready stock. Kenapa harus impor, kalau kemampuan nasional ada?” tegas Budi Harta.

ISSC berharap pemerintah dapat mempertimbangkan potensi industri baja nasional dalam kebijakan pengadaan jembatan Bailey, tidak hanya untuk percepatan penanganan bencana, tetapi juga sebagai langkah memperkuat kemandirian industri konstruksi dalam negeri. (hds)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan