GedungNewsProduk

Investasi Rp1,5 Triliun, PT Tata Metal Lestari Bangun Pabrik Baja Berteknologi Hidrogen di Purwakarta

Pabrik baja tersebut mengadopsi teknologi dari perusahaan asal Italia, Tenova, yang mampu menghasilkan baja lapis berstandar internasional

Konstruksi Media – PT Tata Metal Lestari menggelontorkan investasi sebesar Rp1,5 triliun untuk membangun fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Plant Sadang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Fasilitas ini ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada akhir 2026.

Pabrik baja tersebut mengadopsi teknologi dari perusahaan asal Italia, Tenova, yang mampu menghasilkan baja lapis berstandar internasional dengan usia pakai lebih panjang serta emisi yang lebih rendah.

Vice President of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, mengatakan teknologi pelapisan yang digunakan pada CGL 2 mampu meningkatkan umur pakai baja hingga empat kali lipat dibandingkan baja konvensional.

Tata Metal lestari
Ground breaking fasilitas CGL 2 PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat. (Foto: Ist)

“Ini merupakan investasi sebesar Rp1,5 triliun untuk pembangunan CGL 2. Teknologi ini menjadi yang pertama di Asia Tenggara karena menggunakan pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, yang keunggulannya mampu meningkatkan usia pakai baja hingga empat kali,” ujar Stephanus saat acara groundbreaking di Purwakarta, Senin (26/1/2026).

Baca juga: Tatalogam dan UPI Perpanjang Kolaborasi Riset Baja Reflektif Surya Melalui Cat BeCool

Selain meningkatkan ketahanan produk, fasilitas CGL 2 juga dirancang lebih ramah lingkungan. Sistem burner pada lini produksi ini telah dilengkapi teknologi berbasis hidrogen yang berfungsi menekan emisi karbon dalam proses produksi.

Tata Metal lestari
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat melepas ekspor delapan kontainer produk baja lapis dengan merek dagang Nexalume, Nexium, dan Nexcolor produksi PT Tata Metal Lestari (Tatalogam Group) dari pabrik baru mereka yang berada di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat. (Foto: Ist)

Baja lapis yang dihasilkan dari fasilitas ini akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi, infrastruktur, dan manufaktur, seiring meningkatnya permintaan material baja berkualitas tinggi di dalam negeri.

Stephanus menambahkan, pembangunan fasilitas CGL 2 merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat daya saing industri baja nasional sekaligus mendukung transisi menuju industri hijau.

“Fasilitas ini ditargetkan mulai commissioning pada Desember 2026 dan diharapkan dapat mendukung kebutuhan baja nasional yang berkelanjutan,” pungkasnya. (***)

 

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan