Konstruksi Media – Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Data presentasi PT Suryacipta Swadaya menunjukkan Indonesia berada di posisi kedua penerima investasi asing langsung (FDI) terbesar di kawasan ASEAN, hanya berada di bawah Singapura.
Sektor-sektor utama yang berkontribusi pada FDI Indonesia di antaranya makanan dan minuman, kimia dan farmasi, serta industri logam dan barang logam non-elektronik.
Pertumbuhan infrastruktur menjadi faktor kunci yang mendorong kenaikan investasi dan kinerja ekonomi nasional. Pemerintah mencatat peningkatan anggaran infrastruktur yang selaras dengan pertumbuhan FDI dan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
“Investasi akan datang saat infrastruktur siap. Itulah mengapa pembangunan pelabuhan, bandara, dan jaringan tol sangat penting untuk menurunkan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi industri,” ujar Abednego Purnomo, Vice President (Sales, Marketing and Tenant) PT Suryacipta Swadaya saat menjadi narasumber di acara Indonesia Construction Insights and Forcast (ICIF) 2026, di Lippo Mall Nusantara, Kamis (20/11/2025).
Jawa Barat, Magnet Utama Industri dan Investasi
Jawa Barat tercatat sebagai provinsi tujuan investasi asing terbesar dengan kontribusi 16% dari total FDI nasional periode 2020–2025 (YTD). Wilayah ini memiliki ekosistem industri yang matang, didukung konektivitas yang kuat ke pelabuhan, bandara, dan jaringan logistik strategis.
Abednego menegaskan bahwa Jawa Barat masih menjadi episentrum rantai pasok industri nasional.

“Jawa Barat sudah memiliki ekosistem industri yang teruji puluhan tahun. Investor memilih lokasi yang dekat dengan pelabuhan, bandara, serta pasar besar dan semuanya ada di sini,” tuturnya.
Subang Smartpolitan, Masa Depan Kawasan Industri Hijau dan Terpadu
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian investor adalah Subang Smartpolitan, kota industri cerdas dan berkelanjutan seluas 2.717 hektare yang dikembangkan oleh PT Suryacipta Swadaya.
Baca juga: Industri Konstruksi Siap Melaju ke 2026 dengan Momentum Baru dan Prospek Investasi yang Menguat
Kawasan ini berada di koridor industri masa depan, terhubung langsung dengan Pelabuhan Patimban serta Bandara Internasional Kertajati dan akan terhubung pula jaringan kereta cepat.
Sejumlah investor global sudah menanamkan modal di Subang Smartpolitan, termasuk sektor otomotif, elektronik, dan tekstil.
“Konsep kami bukan sekadar kawasan industri. Smartpolitan dirancang sebagai kota pintar yang mengintegrasikan industri, hunian, komersial, hingga pendidikan dalam satu ekosistem yang efisien dan ramah lingkungan,” jelas Abednego.

Ia menambahkan bahwa Suryacipta menerapkan kurasi ketat pada jenis industri.
“Kami hanya menerima industri bersih. Ini bagian dari komitmen kami mendukung sustainability dan standar ESG global,” ucapnya.
Prospek Investasi Tetap Cerah
Pemerintah menargetkan realisasi investasi nasional mencapai Rp2.175 triliun pada 2026. Insentif investasi dan hilirisasi industri akan terus diperkuat untuk menarik pemain global di sektor otomotif listrik, pusat data, dan energi hijau.
“Indonesia bukan hanya lokasi produksi, tapi juga pasar masa depan. Kombinasi populasi besar dan transformasi infrastruktur menjadikan negara ini sangat kompetitif,” kata Abedne (***)


