Konstruksi Media – Industri besi dan baja tengah menikmati momentum pertumbuhan yang kuat sepanjang tahun ini. Pemerintah mencatat lonjakan permintaan yang berasal dari berbagai sektor, mulai dari proyek pembangunan nasional hingga meningkatnya aktivitas industri pendukung seperti nikel.
Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian RI, Dodiet Prasetyo, menegaskan bahwa besi-baja merupakan sektor strategis yang terhubung langsung dengan banyak industri lain. Pemerintah, kata dia, tetap membuka keran impor bahan baku, namun menempatkan produsen dalam negeri sebagai prioritas utama.
“Sektor besi baja sangat terkait dengan industri lainnya. Fokus kami adalah menciptakan nilai tambah semaksimal mungkin di dalam negeri. Impor bahan baku tetap dibuka, namun preferensi tetap kami berikan kepada industri nasional,” ujar Dodiet seusai Signing Ceremony kerja sama Garuda Yamato Steel (GYS) dan SMS Group di pabrik GYS, Selasa (9/12/2025).
Dodiet menekankan bahwa pemerintah ingin memastikan sebagian besar aktivitas industri berlangsung di Tanah Air agar manfaat ekonominya bisa dirasakan lebih luas. “Sepanjang ada nilai tambahnya, pasti kami berikan porsi tambahan, namun porsi terbesar tetap harus untuk industri dalam negeri,” tambahnya.
Pertumbuhan Tertinggi di Industri Nasional
Tahun ini, sektor besi-baja kembali menjadi tulang punggung industri nasional. Subsektor industri logam dasar—yang mencakup besi dan baja—mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibanding subsektor manufaktur lain, menembus 14,47% secara year-on-year.
“Pertumbuhan besi baja tahun ini mencapai 14 persen lebih, dan ini merupakan pertumbuhan tertinggi selama ini. Kami berharap sektor ini terus menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Dodiet.
Pertumbuhan pesat ini juga didorong oleh kuatnya keterkaitan rantai pasok dengan industri lain seperti nikel, yang turut mengerek aktivitas produksi di sektor besi-baja.
Proyek Konstruksi dan IKN Jadi Pendorong Utama
Selain menopang kebutuhan industri, permintaan baja nasional meningkat drastis berkat berbagai proyek infrastruktur besar. Dodiet menjelaskan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi salah satu motor utama konsumsi baja dalam dua tahun terakhir.
“Permintaan pasar meningkat sangat pesat. Pembangunan infrastruktur tentu menjadi faktor pertama. Yang kedua, IKN juga membutuhkan dukungan besar dari industri besi baja,” jelasnya.
Dengan permintaan yang terus menguat dan dukungan kebijakan pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri, sektor besi-baja diperkirakan akan tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan industri manufaktur Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. (***)




