InfrastrukturNewsTeknologi

Indonesia Jadi Pasar Data Center Terpanas di Asia Pasifik

Data Colliers menunjukkan lonjakan yang mencengangkan. Kapasitas pusat data Indonesia diproyeksikan meningkat 124 persen dalam periode 2023–2026

Konstruksi Media – Lanskap digital Asia Pasifik tengah mengalami pergeseran tektonik. Berdasarkan laporan strategis terbaru Colliers, Indonesia kini muncul sebagai pasar dengan pertumbuhan paling eksponensial di sektor pusat data (data center). Lonjakan ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan didorong oleh permintaan riil di tengah tingkat penetrasi data center per kapita yang masih sangat rendah.

Colliers menilai Indonesia tidak lagi berperan sebagai penonton di kawasan Asia Pasifik, melainkan telah menjelma menjadi pesaing serius yang siap menyalip pasar-pasar matang seperti Singapura dan Jepang dari sisi momentum pertumbuhan.

Pertumbuhan Melejit 124 Persen hingga 2026

Data Colliers menunjukkan lonjakan yang mencengangkan. Kapasitas pusat data Indonesia diproyeksikan meningkat 124 persen dalam periode 2023–2026, tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Analisis Komparatif Pertumbuhan Kapasitas Data Center (2023–2026):

  • Indonesia: 124% (pemimpin pertumbuhan)
  • Malaysia: 112%
  • Thailand: 98%
  • India: 89%
  • Filipina: 14%

Sebaliknya, pasar matang seperti Tokyo, Sydney, dan Singapura tumbuh lebih lambat karena basis kapasitas yang telah besar.

“Indonesia memulai dari basis yang rendah, tetapi melesat dengan momentum yang sulit dibendung,” ujar Head of Research Colliers, Ferry Salanto, dikutip Kamis (1/1/2026).

Paradoks Jakarta: Kapasitas Rendah, Potensi Melangit

Jakarta menempati posisi yang unik. Secara Live IT Capacity (MW), Jakarta masih berada di bawah kota-kota seperti Tokyo atau Seoul. Namun, kota ini mencatatkan akselerasi signifikan dalam transisi proyek dari tahap pipeline menuju konstruksi dan commissioning.

Menurut Ferry, ada sejumlah faktor utama yang membuat Indonesia—khususnya Jakarta—sangat menarik bagi investor pusat data global.

Pertama, kapasitas data center per kapita Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara tetangga, sehingga ruang ekspansi masih terbuka sangat lebar. Kedua, terdapat kesenjangan besar antara permintaan dan pasokan. Ledakan ekonomi digital, mulai dari e-commerce, perbankan digital, hingga adopsi kecerdasan buatan (AI), menciptakan kebutuhan masif akan penyimpanan dan pemrosesan data di dalam negeri. Ketiga, Indonesia tengah melakukan pengejaran infrastruktur digital secara agresif untuk mendukung visi kedaulatan data nasional.

Keunggulan Kompetitif Indonesia

Selain faktor permintaan, Indonesia juga memiliki sejumlah keunggulan struktural yang memperkuat posisinya sebagai pasar data center utama di Asia Pasifik.

Dari sisi biaya, Indonesia menawarkan efisiensi konstruksi yang sangat kompetitif. Biaya pembangunan pusat data di Indonesia tercatat sekitar 38 persen lebih murah dibandingkan Singapura, menjadikan kawasan Jakarta dan Batam sebagai magnet investasi regional.

Baca juga: Tahukah Anda! Biaya Konstruksi Data Center di Jakarta Lebih Mahal dari Shanghai, Tantangan AI di Depan Mata

Dukungan regulasi juga menjadi faktor kunci. Pemerintah Indonesia secara aktif menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui berbagai kebijakan fiskal dan regulasi, termasuk fasilitas tax holiday dan percepatan pengembangan koridor digital untuk menyederhanakan proses investasi dan operasional.

Lonjakan Kapasitas Nasional Menuju 2030

Dalam jangka menengah hingga panjang, prospek Indonesia semakin menjanjikan. Dari estimasi kapasitas nasional saat ini sekitar 700 MW, Indonesia diproyeksikan memiliki kapasitas lebih dari 2.000 MW pada 2030.

Masuknya investasi dari hyperscalers global seperti Amazon Web Services (AWS), Google, dan Microsoft, serta adopsi teknologi AI secara masif, menjadi motor utama pertumbuhan kapasitas tersebut.

Potensi Besar dari Kapasitas Per Kapita

Analisis kapasitas per kapita semakin menegaskan besarnya ruang pertumbuhan Indonesia. Saat ini, kapasitas data center per kapita Indonesia hanya sekitar 1,5 watt, jauh tertinggal dibandingkan Jepang (10 watt) atau Singapura (lebih dari 100 watt).

Rendahnya angka ini menjadi indikator bahwa pasar data center Indonesia masih berada pada fase awal pertumbuhan, dengan potensi ekspansi jangka panjang yang sangat besar.

Menuju Era Green Data Center

Ke depan, perkembangan pusat data di Indonesia juga bergerak ke arah keberlanjutan. Industri kini mulai berfokus pada penerapan Green Data Center yang mengandalkan energi terbarukan untuk memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) global.

Pusat data dikenal sebagai industri yang sangat intensif energi. Di tengah komitmen global menuju Net Zero Emission, tantangan utama Indonesia adalah menyediakan pasokan listrik yang stabil, andal, sekaligus ramah lingkungan. Investor yang mampu menghadirkan solusi energi hijau diproyeksikan akan memiliki keunggulan kompetitif signifikan di pasar Indonesia.

Proyek Strategis Menuju Giga-Scale

Hingga November 2025, sejumlah proyek raksasa telah diumumkan dan mulai dikembangkan, mempertegas dominasi koridor Cibitung–Cikarang serta Batam sebagai hub data center baru di Indonesia. Beberapa proyek strategis tersebut antara lain:

  1. JK6 Data Center – DCI Indonesia
    Lokasi: Cibitung
    Kapasitas: 119 MW (proyeksi)
  2. DAMAC Digital
    Lokasi: Cikarang
    Kapasitas: 144 MW (proyeksi)
  3. JC3 Campus – PDG
    Lokasi: Cikarang
    Kapasitas: 120 MW (proyeksi)
  4. NeutraDC Nxera Batam
    Lokasi: Kabil, Batam
    Kapasitas: 54 MW (proyeksi)
  5. SMX01 – Korea Investment
    Lokasi: Jakarta CBD
    Kapasitas: 60 MW (proyeksi). (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan