Konstruksi Media — Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar proyek pemindahan pusat administrasi, melainkan wujud ambisi Indonesia menciptakan kota masa depan yang cerdas, hijau, dan inklusif. Terletak di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, IKN kini menjadi laboratorium hidup bagi pembangunan perkotaan modern di Tanah Air.
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menegaskan bahwa IKN menjadi acuan pembangunan kota masa depan di Indonesia. “Membangun kota dari nol memberikan keleluasaan yang tidak dimiliki kota-kota tua yang terbebani masalah tata ruang kronis. IKN adalah laboratorium bagi pembangunan di tempat lain ke depan,” ujar Ilham.
IKN mengusung standar baru, termasuk target net-zero carbon city dengan 75 persen kawasan hijau untuk menjaga ekosistem hutan Kalimantan. Kota ini juga mengimplementasikan smart mobility melalui transportasi umum berbasis listrik dan jalur pedestrian yang masif, serta circular economy untuk pengelolaan air dan sampah mandiri yang menjadi standar baru bagi kota-kota Indonesia.
Peran insinyur menjadi krusial dalam pembangunan IKN. Kehadiran IKN memicu inovasi di bidang teknik sipil, teknologi informasi, dan energi terbarukan, menjadikannya pusat riset konstruksi terbesar di Asia Tenggara. Otorita IKN juga melibatkan generasi muda melalui program Mahasiswa Kaltim Goes to IKN 2025, bekerja sama dengan universitas lokal untuk transfer teknologi, pengembangan kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat asli Kalimantan sebagai motor penggerak pembangunan.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyatakan pembangunan IKN kini memasuki tahap strategis sesuai Perpres Nomor 79 Tahun 2025. Targetnya, pada 2028 IKN berfungsi penuh sebagai Ibu Kota Politik Indonesia, mencakup penyelesaian Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), gedung lembaga tinggi negara, hingga fasilitas diplomatik. Perpindahan ini menjadi simbol kedaulatan Indonesia yang lebih Indonesia-sentris, tidak lagi terfokus hanya di Pulau Jawa. (***)



