Konstruksi Media – “We are at the point of no return.” Kalimat yang diucapkan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Basuki Hadimuljono, bukan sekadar pernyataan teknis tentang progres konstruksi. Ia adalah sebuah ikrar ideologis. Pada penghujung 2025, IKN bukan lagi sketsa di atas meja birokrasi, melainkan denyut kehidupan yang kian berdegup di jantung Kalimantan.
Nusantara bertumbuh laksana doa yang dikabulkan perlahan. Ia menjelma sebagai perpaduan ambisi baja infrastruktur, kelembutan napas alam, dan pemuliaan harkat manusia. Ketiganya terorkestrasi dalam sebuah simfoni pembangunan yang membawa IKN melangkah mantap menuju babak baru: Ibu Kota Politik Indonesia.
Infrastruktur Menuju Kulminasi
Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana struktur-struktur raksasa mulai bersahabat dengan cakrawala. Pembangunan infrastruktur utama telah mencapai titik kulminasi yang membanggakan.
Masjid Negara kini berdiri tegak dengan progres 90,91 persen, menjulang sebagai mercusuar spiritualitas. Tak jauh dari sana, Basilika Fransiscus Xaverius Nusantara telah mencapai 89,304 persen, menegaskan IKN sebagai kota inklusif yang merawat keberagaman. Sementara itu, Istana Wakil Presiden menyentuh progres 96,281 persen, siap menjadi saksi pengambilan keputusan strategis bangsa.
Urat nadi kehidupan kota pun terus dipersiapkan. Di sektor pendidikan, pembangunan SD mencapai 98,523 persen, SMP 97,825 persen, dan SMA 98,119 persen, memastikan masa depan tumbuh seiring berdirinya kota. Layanan dasar seperti pasar dan puskesmas telah rampung 100 persen, menjamin kualitas hidup warga sejak hari pertama.
Sementara itu, konektivitas regional yang menjadi penyambung napas ekonomi telah mencapai 79,92 persen, membuka jalur integrasi IKN dengan kawasan sekitarnya dan dunia luar.
Manusia sebagai Jantung Pembangunan
Bagi Basuki, pembangunan IKN bukan sekadar menumpuk beton dan semen, melainkan membangun ekosistem manusia. Sepanjang 2025, penguatan kapasitas insan menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.
Lebih dari 1.200 aparatur sipil negara (ASN) telah mulai menapakkan kaki dan merajut rutinitas di Nusantara. Yang lebih menyentuh, 1.285 warga lokal telah menuntaskan program upskilling dan reskilling, memastikan masyarakat setempat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.
Denyut ekonomi kerakyatan pun mulai terasa. Tercatat 888 UMKM binaan dan 91 tenant usaha telah beroperasi, menandai kehidupan ekonomi yang tumbuh di sela-sela gedung-gedung pemerintahan.
Forest City: Harmoni dengan Alam
Filosofi forest city tetap menjadi jiwa pembangunan IKN. Bagi Basuki, konsep ini bukan slogan hijau di atas kertas, melainkan ikhtiar mengembalikan harmoni manusia dengan alam.
Di tengah aktivitas konstruksi, Otorita IKN bersama masyarakat telah melakukan penghijauan kembali seluas 10.471 hektare. Lebih dari 12.733 pohon ditanam untuk menyaring udara dan menurunkan suhu kawasan. Kehidupan juga ditebar di perairan, dengan 13.152 kilogram calon induk ikan serta 16.166 ekor benih ikan dilepas ke sungai dan embung Nusantara.
Baca juga: Diserbu 37 Ribu Pengunjung, IKN Jadi Destinasi Publik Favorit Libur Nataru
Ini adalah penegasan bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan kelestarian ekosistem.
Kolaborasi Global, Kepercayaan Dunia
IKN berdiri di atas fondasi kolaborasi yang kokoh. Jika APBN 2025 sebesar Rp10 triliun menjadi pemantik awal, maka dunia usaha menjadi bahan bakarnya. Melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), investasi senilai Rp158,73 triliun telah terkonfirmasi, ditambah investasi swasta murni sebesar Rp66,5 triliun.
Angka-angka tersebut adalah simbol kepercayaan. Nusantara dipandang sebagai global gateway baru Indonesia, diperkuat oleh dukungan Smart City Technical Assistance dan Capital City Facility (EUICF) yang menegaskan standar global perencanaan kota ini.
Menuju 2028: Ibu Kota Politik Indonesia
Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025 menjadi kompas arah pembangunan: IKN bersiap menjadi Ibu Kota Politik Indonesia. Proses pembentukan Pemerintah Daerah Khusus (Pemdasus) IKN tengah digodok bersama Jimly School of Law and Government, demi tata kelola yang bersih dan terukur.
Pembangunan Tahap II pun telah dimulai, ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama untuk Kawasan Legislatif dan Yudikatif yang mencakup 28 paket, terdiri dari 15 paket fisik dan 13 paket nonfisik.
Penegasan batas wilayah melalui kesepakatan bersama pemerintah daerah sekitar pada 21 Oktober 2025 turut menghapus keraguan administratif. Sepanjang 2025, Nusantara juga menjadi ruang temu tokoh, gagasan, dan agenda strategis global, melalui berbagai kunjungan kenegaraan dan interaksi publik.
Semua itu memperkuat posisi IKN sebagai pusat gravitasi baru Indonesia.
“Tak ada lagi titik untuk kembali. Hanya satu jalur untuk melangkah maju. Terima kasih untuk setiap doa yang melangit, setiap peluh yang menetes ke bumi, dan setiap semangat yang tak pernah padam. Nusantara bukan lagi sekadar harapan; ia adalah kenyataan yang akan kita wariskan kepada anak cucu kelak,” pungkas Basuki. (***)




