Info ProyekNews

Geotekindo Perkenalkan 3 Proyek dengan Tantangan Tanah Kompleks di PIT HATTI 2025

Geotekindo menyoroti berbagai proyek besar yang tengah mereka tangani di Indonesia.

Konstruksi Media – Dalam ajang Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) HATTI 2025, perusahaan geoteknik Geotekindo menyoroti berbagai proyek besar yang tengah mereka tangani di Indonesia. Proyek-proyek itu mulai dari pelabuhan, jalan tol, hingga pertambangan.

Tiap proyek memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait kondisi tanah ekstrem dan kebutuhan efisiensi konstruksi di lapangan.

“Kita ada Kalibaru Port. Sekarang proyeknya menggunakan metode konstruksi banyak banget seperti deel cement mixing, double stage vacum consolidation dan dynamic compaction,” ujar Daniel Sutanto, Geotechnical Engineer Geotekindo, saat ditemui di sela acara PIT HATTI 2025, Jakarta, Rabu (12/11).

Baca Juga:

Di PIT HATTI 2025, Panairsan Dorong Digitalisasi Alat Uji Tanah

Daniel menjelaskan, proyek Kalibaru Port merupakan salah satu lokasi dengan kondisi tanah ultra lunak (ultra soft soil), yang menuntut penerapan metode stabilisasi tanah berlapis untuk menciptakan daya dukung memadai.

“Kalibaru challenge banget karena tanahnya ultra soft. Sekarang udah ada pasir yang agak tinggi dan cukup baik. Container bisa berdiri di situ,” jelasnya.

Selain proyek pelabuhan, Geotekindo juga terlibat dalam pembangunan Tol Semarang–Demak, salah satu proyek perbaikan tanah terbesar di Pulau Jawa.

Di proyek ini, perusahaan menerapkan Prefabricated Vertical Drain (PVD), teknologi perbaikan tanah dengan memasang drainase vertikal sintetis untuk mempercepat keluarnya air pori dari tanah lunak.

Langkah ini mempercepat proses konsolidasi dan meningkatkan kestabilan tanah sebelum konstruksi struktur utama dilakukan. Di proyek tersebut kata Daniel, Geotekindo menggunakan metode PVD yang sangat dalam hingga 50 meter lebih.

“Itu challenge banget untuk menjaga kualitasnya tetap lurus,” lanjutnya.

Kontribusi dalam Dunia Mining

Tak hanya di sektor infrastruktur publik, Geotekindo juga berkontribusi dalam dunia pertambangan melalui proyek Pipit Mining, yang fokus pada perbaikan tanah dan stabilitas lereng. Hal ini juga sekaligus menegaskan komitmen bahwa Geotekindo memiliki peran pada perbaikan tanah di dunia tambang.

Menurut Daniel, metode yang digunakan pada proyek itu mampu memperkuat lereng tambang sehingga lebih tegak tanpa mengorbankan faktor keamanan.

Baca Juga:

Di PIT HATTI 2025, Panairsan Dorong Digitalisasi Alat Uji Tanah

Pendekatan ini tak hanya meningkatkan efisiensi lahan tambang, tetapi juga mengurangi volume material buangan dan mempercepat proses operasional di lapangan.

Dengan rekayasa geoteknik yang tepat, stabilitas lereng tetap terjaga meski sudutnya lebih curam. Hal ini memberikan nilai tambah bagi perusahaan tambang dari sisi produktivitas dan keberlanjutan proyek.

“Ternyata ada opsi di mana kita bisa buat lereng mining lebih tegak dengan cara meningkatkan kekuatan tanah,” tambahnya.

Selain fokus pada inovasi teknik di lapangan, Geotekindo juga terus mengikuti perkembangan teknologi pendukung di industri geoteknik. Daniel menilai, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) berpotensi membantu proses analisis dan pengambilan keputusan, meski tidak menggantikan peran insinyur di lapangan.

“AI bisa untuk mensuport, bukan menggantikan. Mungkin mensuport membantu analisa. Jadi bukan menggantikan manusia,” tegasnya.

Partisipasi Geotekindo di PIT HATTI 2025 menunjukkan peran penting para pelaku geoteknik dalam menjawab tantangan konstruksi di tanah ekstrem.

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp
Banner Kiri
Banner Kanan