Eco GreenESGInfo ProyekInfrastrukturKonstruksi BerkelanjutanNewsProdukSustainability

Fondasi Hijau Menuju Indonesia Emas: Membangun Aksi Masa Depan Berkelanjutan

Keberlanjutan harus bisa dihitung dan dievaluasi secara objektif agar tidak sekadar menjadi narasi tanpa dampak nyata.

Konstruksi Media Pembangunan konstruksi berkelanjutan di Indonesia kian menemukan pijakan yang lebih kokoh. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Boby Ali Azhari dalam gelaran Sustainability Forum 2025: “Dari Solusi Menuju Aksi” Membangun Strategi, Menjalin Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan”.

Pemerintah menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon atau wacana normatif, melainkan telah menjadi bagian dari sistem regulasi yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan.

Melalui kebijakan yang terstruktur, arah pembangunan nasional kini diarahkan untuk memastikan keseimbangan antara pertumbuhan infrastruktur, kelestarian lingkungan, serta manfaat sosial dan ekonomi.

Dirjen Boby Ali Azhari mengatakan prinsip konstruksi berkelanjutan telah diatur secara komprehensif melalui Permen PUPR Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan.

Di mana, regulasi ini mengatur penerapan keberlanjutan sepanjang siklus proyek, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan konstruksi.

“Prinsip-prinsip konstruksi berkelanjutan secara komplit di lapangan dapat dilaksanakan melalui proyek life cycle, dari mulai perencanaan sampai dengan pelaksanaan konstruksi,” kata Boby dalam Sustainability Forum 2025 yang digelar di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu, (17/12/2025).

Menurutnya, penerapan konstruksi berkelanjutan tidak boleh berhenti pada konsep abstrak. Indikator keberlanjutan harus terukur dan jelas, mencakup aspek teknis, lingkungan, ekonomi, hingga sosial.

Ia menekankan bahwa keberlanjutan harus bisa dihitung dan dievaluasi secara objektif agar tidak sekadar menjadi narasi tanpa dampak nyata. Dalam konteks bangunan hijau, Boby mencontohkan bahwa metode penghitungan kontribusi lingkungan sudah tersedia dengan jelas. Penggunaan dan efisiensi air, efisiensi energi, hingga pengurangan emisi karbon telah memiliki indikator yang terukur.

“Penghitungannya jelas, tidak sekadar wacana, dan ini harus mulai kita lakukan bersama,” tuturnya.

Meski demikian, Boby mengakui bahwa regulasi tersebut masih akan terus disempurnakan. Detail penghitungan keberlanjutan akan diperjelas seiring dengan roadmap masing-masing sektor.

Saat ini, berbagai proyek pemerintah telah menunjukkan praktik nyata konstruksi berkelanjutan, mulai dari pembangunan bendungan untuk konservasi air, hingga pemberdayaan ekonomi lokal di sekitar proyek.

Inovasi material juga menjadi bagian penting dari transformasi ini. Boby menyebut penggunaan bahan material ramah lingkungan, biokomposit untuk mengurangi jejak karbon, teknologi aspal ramah lingkungan, hingga pemanfaatan material bambu pada proyek Tol Semarang–Demak sebagai contoh konkret inovasi konstruksi berkelanjutan yang patut diapresiasi.

Kementerian PU
Dukung Asta Cita, Kementerian PU Perkuat Penataan Kawasan Permukiman Tahun 2025. Dok. Ist

Implementasi Green Building

Terkait penerapan green building dalam pembangunan, Boby menilai Indonesia telah melangkah cukup jauh, bahkan, seluruh bangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang dengan prinsip bangunan hijau. Ia menyatakan bahwa keberhasilan green building sangat ditentukan sejak tahap awal perencanaan.

“Kalau perencanaannya baik, Insya Allah pelaksanaannya akan menjadi baik,” katanya.

Selanjutnya, Dirjen Boby mengatakan Pemerintah juga telah menerapkan kebijakan mandatori untuk bangunan dengan luasan tertentu agar memenuhi standar green building. Berbagai predikat keberlanjutan telah diraih di sektor jalan, bendungan, hingga bangunan gedung, hal ini menandakan bahwa prinsip keberlanjutan mulai terinternalisasi dalam praktik konstruksi nasional.

Dikatakan olehnya, pembangunan konstruksi berkelanjutan tidak bisa berjalan sendiri, meliankan butuh kolaborasi antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama. Pemerintah berperan sebagai regulator sekaligus pemberi insentif, termasuk melalui kebijakan taxsonomi hijau dan skema pembiayaan hijau.

Proyek Lean Construction
Ilustrasi Proyek Lean Construction. Dok. Ist/Gemini

Lean Construction-Indonesia Emas 2045

Ia juga menyoroti penerapan lean construction sebagai langkah penting untuk melakukan efisiensi material dan pengurangan limbah konstruksi.

Pengalaman di berbagai proyek, termasuk di IKN, menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya dan kondisi lapangan yang tepat menjadi faktor krusial agar pembangunan tetap berkelanjutan dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Dirjen Boby mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat pembangunan berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Mungkin kita tidak menikmati Indonesia Emas itu, tapi generasi muda di bawah kita yang akan merasakannya. Tugas kitalah hari ini untuk memberikan fondasi yang kuat bagi masa depan bangsa (menuju Indonesia Emas),” tutupnya.

Baca Juga : Tampung 1.000 Siswa, Kementerian PU Kebut Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen di Banjarbaru

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan