
Konstruksi Media – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperkuat infrastruktur energi bersih di tingkat pedesaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Berkolaborasi dengan Telkom University (Tel-U), Telkom menyerahkan empat unit instalasi biodigester kepada masyarakat Dukuh Pokoh, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada pekan lalu.
Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif Digital Collaboration for Sustainability (DCS) yang bertujuan mendorong kemandirian energi berbasis pengelolaan limbah organik peternakan secara berkelanjutan.
Teknologi Biodigester: Limbah Jadi Energi
Secara teknis, biodigester merupakan sistem reaktor tertutup yang memanfaatkan proses biokimia anaerob. Teknologi ini mengubah limbah organik, seperti kotoran sapi, menjadi biogas yang dapat digunakan untuk kebutuhan energi harian warga.
Selain menghasilkan gas, sistem ini memberikan nilai tambah berupa produk sampingan:
- Energi Terbarukan: Biogas siap pakai untuk konsumsi rumah tangga.
- Pupuk Organik Cair: Menghasilkan bio-slurry sekitar 10–20 liter per hari yang bermanfaat bagi sektor pertanian.
Ketua CoE Sustainable Energy and Climate Change Tel-U, Prof. Dr. Ir. Jangkung Raharjo, M.T., menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

“Kami berharap biodigester ini tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga instrumen untuk meningkatkan kemandirian warga desa,” ujarnya.
Baca Juga:
Hutama Karya Tuntaskan Jembatan Darurat Aih Bobo, Jalur Logistik Gayo Lues Kembali Pulih
Sinergi Industri dan Akademisi
Program ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah. Kehadiran instalasi ini diharapkan menjadi model penerapan ekonomi sirkular yang bisa direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.
Ketua SDGs Center Tel-U, Dr. Runik Machfiroh, mengapresiasi dukungan pendanaan dari Telkom Indonesia yang memungkinkan program pengabdian masyarakat ini berjalan secara konkret. Sementara itu, Asisten Manager SDGs SRC Telkom Indonesia, Suleksono, menekankan pentingnya keberlanjutan.
“Kami berharap kelompok tani dapat merawat instalasi ini dengan baik. Keberhasilan di Dukuh Pokoh akan membuka peluang pengembangan inisiatif serupa di wilayah lain,” tegas Suleksono.




