Dari ITS ke Inggris, Prof Bhakti Onggo Kembangkan Teknologi Digital Twins untuk Kebencanaan
Prof Dr Bhakti Stephan Onggo PhD mendorong pemanfaatan teknologi digital twins untuk memperkuat mitigasi bencana di Indonesia
Konstruksi Media – Prof Dr Bhakti Stephan Onggo PhD mendorong pemanfaatan teknologi digital twins untuk memperkuat mitigasi bencana di Indonesia. Bagi alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu, teknologi bukan sekadar inovasi teknis, tetapi instrumen kemanusiaan yang berorientasi pada penyelamatan populasi rentan.
Bhakti kini berkarier sebagai profesor di University of Southampton, Inggris. Ia dikenal sebagai pakar simulasi dan business analytics. Fondasi keilmuannya dibangun sejak menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Komputer ITS pada 1989.
Saat itu, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan.
“Namun, itulah yang membentuk karakter kami menjadi pribadi yang mandiri, ulet, dan tidak mudah putus asa,” tutur lelaki asal Probolinggo tersebut.
Setelah lulus dari ITS, Bhakti melanjutkan studi magister di Lancaster University pada bidang Operations Research. Ia kemudian meraih gelar doktor di National University of Singapore (NUS) jurusan Computer Science.
Karier akademiknya berlanjut sebagai peneliti pascadoktoral di Inggris, lalu menjadi Associate Professor di Trinity College Dublin sebelum akhirnya diangkat sebagai profesor di Southampton.
Baca Juga:
Renotop Factory Outlet Tawarkan Material Ramah Kantong dengan Diskon 80 Persen
Kontribusi Bhakti untuk Indonesia lewat Digital Twins

Meski berkiprah di luar negeri, Bhakti tetap aktif berkontribusi untuk Indonesia. Ia berkolaborasi dengan Departemen Teknik Geomatika ITS dan Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS mengembangkan teknologi digital twins untuk aplikasi kebencanaan.
Digital twins merupakan representasi digital dari sistem nyata yang terhubung secara real-time. Teknologi ini memungkinkan pemodelan, analisis, dan pengambilan keputusan dilakukan secara dinamis sesuai kondisi lapangan.
Riset yang dikembangkan menghasilkan dua aplikasi utama, yakni penyelamatan korban bencana dan distribusi bantuan. Fokusnya pada populasi rentan, seperti ibu hamil dan anak-anak. “Kita berusaha menyelamatkan penyintas bencana secepat mungkin dan sebanyak-banyaknya,” tegasnya.
Sebagai pakar simulasi, Bhakti menjelaskan bahwa integrasi digital twins mampu mengubah paradigma pemodelan yang selama ini cenderung statis.
Dengan pendekatan baru, pengambil keputusan dapat memprediksi situasi lebih cepat, mengevaluasi berbagai skenario, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya secara akurat di tengah ketidakpastian.
Pendekatan ini dinilai penting karena ketepatan waktu menjadi kunci dalam respons bencana. Integrasi simulasi dan digital twins diharapkan meningkatkan efektivitas dan ketahanan sistem penanggulangan bencana ke depan.
Bhakti juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis yang ia peroleh selama kuliah di ITS. “Dengan mengkritisi segala hal, salah satu manfaatnya adalah terhindar dari informasi yang sifatnya hoaks,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kualitas sumber daya manusia tetap menjadi faktor penentu.
“Fasilitas memang bagus, tetapi pada akhirnya kualitas dari mahasiswa yang akan menentukan,” pesannya.




