Konstruksi Media – Kompetisi Geotechnical Engineering Competition (GEC) 2025 yang menjadi bagian dari rangkaian Civil Expo Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa teknik sipil di seluruh Indonesia. Perhelatan yang berlangsung pada 14–15 November 2025 ini menantang peserta merancang desain stabilitas lereng berbahan geotekstil, sekaligus membangun dan menguji prototipenya secara langsung di lapangan.
Ketua Pelaksana GEC 2025, Angger Retro, menjelaskan bahwa total terdapat sebelas prototipe yang diperlombakan, sesuai jumlah tim finalis yang berhasil melaju ke tahap akhir. Sebelum proses uji beban, setiap tim wajib mempresentasikan konsep desain serta memastikan kesesuaian antara rancangan dengan konstruksi yang mereka rakit.
Tahap penilaian dilakukan dengan memberikan beban berupa ember berisi batu seberat 32,5 kilogram pada prototipe lereng. Tim yang berhasil mempertahankan struktur tanpa mengalami keruntuhan akan memperoleh nilai lebih pada aspek kekuatan dan efisiensi desain.
Berbeda dari edisi sebelumnya yang menggunakan timbunan tegak, kompetisi tahun ini mengaplikasikan desain timbunan miring dengan kemiringan 2V:1H serta penggunaan geotekstil sebagai perkuatan utama. Semua rancangan diharuskan menonjolkan efisiensi material sesuai tema “Emphasizing Green Construction” yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam rekayasa teknis.
“Kami sangat menekankan efisiensi penggunaan material sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan,” kata Angger, yang saat ini menempuh studi pada semester lima Teknik Sipil ITS.
Azmi Lisani Wahyu, S.T., M.T., Direktur Teknik Teknindo Geosistem Unggul selaku sponsor utama, menyampaikan bahwa GEC telah rutin dilaksanakan hingga tahun kesebelas ini, dan lima tahun terakhir turut mendapat dukungan dari Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI).
Baca juga: ITS Perkuat Keamanan dan Transformasi Digital lewat Command Center Baru
“Harapan kami, kompetisi ini dapat memberikan insight tentang penyelesaian masalah di lapangan bagi calon insinyur sipil,” ujarnya.
Tahun ini tercatat 38 tim dari 17 perguruan tinggi berpartisipasi, sebelum terseleksi menjadi 11 tim finalis yang berasal dari enam perguruan tinggi berbeda: empat tim Universitas Gadjah Mada, dua tim Institut Teknologi Bandung, dua tim ITS, serta masing-masing satu tim dari Universitas Palangka Raya, Universitas Katolik Parahyangan, dan Universitas Brawijaya Malang.
Selain piagam penghargaan dan hadiah uang tunai, para pemenang juga berpeluang mendapat tiket gratis menuju pertemuan ilmiah tahunan HATTI — kesempatan bergengsi bagi pengembangan keilmuan teknik geoteknik.
Kompetisi ini tak hanya menjadi ajang adu inovasi dan kecermatan perhitungan, tetapi juga momentum bagi mahasiswa untuk mempraktikkan bagaimana stabilitas tanah diuji serta bagaimana solusi kelongsoran dapat diterapkan dengan pemanfaatan teknologi geosintetik. (***)

