News

Cerita Arsitek Indonesia Arena: ‘Menenun’ Stadion Modern Sarat Budaya

Di tengah kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, berdiri Indonesia Arena yang desain bangunannya modern dan sarat budaya.

Konstruksi Media – Di tengah kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, berdiri Indonesia Arena. Sebuah stadion baru berkapasitas 16.000 penonton yang jadi ikon baru arsitektur olahraga Indonesia. Di balik bentuk modernnya, arsitek Rafael David Pasaribu membawa gagasan sederhana. Ia mencoba ‘menenun’ akar budaya Indonesia dalam wujud bangunan modern.

Menurutnya, bangunan tradisional Indonesia selalu berangkat dari nilai kerajinan dan keterampilan tangan. Dari situ, ia dan timnya mencoba mencari simbol yang akrab di mata masyarakat. Anyaman bambu dan besek yang lekat dengan kehidupan sehari-hari orang Indonesia menjadi jawabannya.

“Bangunan tradisional Indonesia selalu mengandalkan kerajinan,” kata Rafael kepada Konstruksi Media, saat ditemui di pameran ISFEX yang digelar di ICE BSD, Jumat (7/11).

Inspirasi itu kemudian diwujudkan pada fasad stadion. Pola anyaman diterjemahkan ke dalam bentuk modern lewat panel aluminium berlubang yang tertata teratur. Bagi David, lubang-lubang kecil itu adalah interpretasi dari ruang udara pada anyaman bambu yang memungkinkan sirkulasi alami.

Dengan cara itu, unsur tradisional tak hanya hadir secara visual, tapi juga memberi fungsi sebenarnya pada bangunan.

Baca Juga: Jokowi Resmikan Indonesia Arena, Stadion Kapasitas 16 Ribu Orang dengan Anggaran Rp640 Miliar

“Kalau kita lihat anyaman itu selalu meninggalkan ruang untuk pertukaran udara. Nah interpretasi dari lubang kecil (lubang anyaman) itu kita buat lubang teratur untuk alumunium,” jelas Principal Architect Aboday Architecs itu.

Indonesia Arena berdiri di tengah Kota Jakarta. Dok.Colorbond.id

Proses Pembangunan Indonesia Arena

Proses pembangunan Indonesia Arena tidak sederhana. Setiap elemen diuji melalui simulasi digital tiga dimensi. David dan timnya menelusuri detail struktur satu per satu di komputer untuk memastikan performanya stabil setelah dibangun.

Setelah tahap digital, mereka membuat beberapa panel percobaan atau dummy untuk melihat bagaimana material bekerja di dunia nyata. Cara itu pun berhasil.

Pemilihan bahan pun menjadi bagian penting dari filosofi desain. Baja dari BlueScope dipilih karena kualitas dan efisiensinya dalam perawatan jangka panjang. Bagi David, apabila menggunakan material yang tangguh berarti suatu bangunan bisa bertahan lama tanpa biaya besar.

Maka dari itu, David tidak menampik bahwa pemilihan material pada pembangunan jadi krusial lantaran dapat memengaruhi kelancaran perancangan.

Rafael David Pasaribu.
Rafael menjadi pembicara di salah satu talkshow digelar oleh ISFEX. dok.Konstruksi Media

Indonesia Arena ‘Menghormati’ GBK

Meski berdiri megah, Indonesia Arena tetap tunduk pada eksistensi kawasan GBK yang dilindungi sebagai cagar budaya. Tinggi bangunannya dibuat lebih rendah agar tidak menyaingi Stadion Utama. Lanjut Rafael, stadion ini hadir bukan untuk bersaing, tapi melengkapi warisan yang sudah ada.

Baca Juga: Tinjau Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Menteri Dody: Telah Penuhi Standar FIFA dan Siap Diresmikan

Lewat perpaduan teknologi dan tradisi, Indonesia Arena menjadi bukti bahwa arsitektur Indonesia bisa maju tanpa kehilangan jati dirinya. Bangunan ini kokoh, modern, dan tetap berakar pada budaya.

“Kita menghormati stadion utama (GBK) dengan merendahkan tinggi dari Indonesia Arena,” tutupnya.

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp
Banner Kiri
Banner Kanan