Konstruksi Media – Seluruh emiten BUMN Karya dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) secara berurutan pada Desember 2025. Agenda besar ini disebut-sebut bakal menjadi penentuan konsolidasi melalui integrasi atau merger BUMN sektor konstruksi.
Mengacu pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) akan menggelar RUPSLB pada 15 Desember 2025. Disusul PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) pada 16 Desember, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) pada 18 Desember, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) pada 23 Desember 2025.
Konsistensi jadwal ini memunculkan dugaan kuat bahwa Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama PT Danantara Asset Management (Persero) tengah menyiapkan kebijakan restrukturisasi besar untuk menata ulang portofolio BUMN Karya.
Wakil Kepala BP BUMN, Aminuddin Ma’ruf, menyampaikan kajian merger masih berlangsung dan diharapkan rampung bulan depan.
“Sedang kami kaji bagaimana merger kelompok BUMN Karya. Mudah-mudahan Desember ini selesai,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.
Informasi yang diterima Bisnis menyebut struktur integrasi akan dibagi dalam tiga klaster:
- Waskita Karya + Wijaya Karya → dipasangkan dengan Hutama Karya sebagai induk
- Adhi Karya + PT PP → digabung bersama Brantas Abipraya dan Nindya Karya
- Satu klaster tambahan masih dikaji lebih lanjut
“Kami bekerja dengan Danantara untuk memastikan proses berjalan baik. Harusnya Desember sudah selesai,” tambah Aminuddin.
Baca juga: Skema Merger BUMN Karya Dikaji Ulang, Waskita Fokus Efisiensi dan Core Business
Potensi Delisting Waskita Karya
Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Hanugroho, mengatakan bahwa perubahan status menjadi perusahaan privat (go private) masih menjadi opsi dalam skema integrasi.
“Ini masih subject to hasil final struktur konsolidasi. Jika merger, dari 3–4 perusahaan menjadi satu entitas, tergantung entitas mana yang bertahan,” jelasnya.
Konsep integrasi masih terbuka dua pilihan:
- Holding–subholding, atau
- Merger penuh menjadi satu entitas
Sementara itu, BEI memberi catatan tegas soal kemungkinan delisting.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menekankan bahwa delisting adalah opsi terakhir.
“Harapan kami perusahaan tetap tercatat. Lebih baik memperbaiki fundamental ketimbang go private,” ujarnya.
RUPSLB Desember mendatang diprediksi menjadi momen krusial penataan ulang industri konstruksi BUMN yang selama ini terbebani proyek mangkrak dan tekanan keuangan. Publik pasar kini menunggu, apakah restu pemegang saham akan mengarah pada merger besar — atau justru perubahan strategi lain. (***)



