
Baja Menjerit, Beton Berguncang: Penutupan Selat Hormuz, Perang di Timur Tengah dan Krisis Senyap Proyek Konstruksi Kita
Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST.,IPU.,ASEAN.Eng
Konstruksi Media – “Dalam setiap krisis terkandung benih peluang, namun hanya mereka yang bersiap yang bisa memanennya.” — Albert Einstein
Jauh di ujung Teluk Persia, terbentang sebuah selat sepanjang 33 kilometer yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta. Namanya Selat Hormuz.
Nama tersebut mungkin asing di telinga para tukang batu dan mandor proyek di Pulau Jawa. Namun sejak Sabtu 28 Februari 2026, ketika Iran menutup jalur strategis itu sebagai balasan atas serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas nuklirnya, selat kecil itu tiba-tiba menjadi penentu nasib jutaan pekerja konstruksi Indonesia yang setiap pagi mengenakan helm kuning dan sepatu bot.
Inilah paradoks zaman kita: sebuah konflik bersenjata di Timur Tengah bisa membuat harga besi beton di gudang Cakung naik, membuat kalkulasi Rencana Anggaran Biaya proyek jembatan di Kalimantan buyar, dan membuat kontraktor BUMN terjaga di tengah malam menghitung ulang proyeksi keuntungan yang kini tampak semakin tipis.
Selat Hormuz bukan sembarang perairan. Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyebut jalur ini sebagai “titik cekik ekonomi dunia”, karena hampir 20 juta barel minyak per hari melintasinya setiap saat.
Angka itu setara dengan 20 persen seluruh konsumsi minyak bumi umat manusia di planet ini. Sekitar sepertiga perdagangan gas alam cair (LNG) global juga mengalir melalui jalur yang sama. Ketika jalur itu lumpuh, dunia menahan napas dan Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak yang masih menggantungkan separuh kebutuhan bahan bakarnya dari luar negeri, merasakan sesak napas itu lebih cepat dari siapapun.
Bagi dunia konstruksi Indonesia, kabar penutupan Selat Hormuz bukan sekadar berita geopolitik yang dibaca sambil menyeruput kopi pagi. Ini adalah alarm tanda bahaya. Konstruksi adalah salah satu sektor yang paling padat energi dan paling bergantung pada rantai pasok global.
Ekskavator minum solar, beton molen membutuhkan bahan bakar, truk pengangkut material mengandalkan diesel, dan pabrik semen serta baja memerlukan energi besar untuk beroperasi. Ketika harga minyak bergerak naik, seluruh ekosistem ini bergetar.
Founder & CEO Supply Chain Indonesia Setijadi menjelaskan bahwa dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak dunia sebesar 25 dolar AS per barel dapat mendorong harga ekonomis solar naik sekitar Rp 750 hingga Rp 2.000 per liter.
Dalam skenario yang lebih berat, kenaikan harga minyak bisa mencapai 50 dolar AS per barel. Jika komponen bahan bakar menyumbang 35 hingga 40 persen dari total biaya operasional truk pengangkut material, kenaikan harga solar 10 persen saja sudah cukup mendorong biaya transportasi naik sekitar 3,5 hingga 4 persen, dan dalam skenario yang lebih berat, kenaikan solar 30 persen bisa memicu lonjakan biaya pengiriman antara 10,5 hingga 12 persen.
Angka-angka itu terdengar kecil. Tapi cobalah bayangkan sebuah proyek jalan nasional senilai Rp 500 miliar. Lonjakan biaya logistik 12 persen berarti tambahan beban Rp 60 miliar yang tidak ada dalam kontrak awal.
Siapa yang menanggung selisih itu? Kontraktor yang sudah menandatangani kontrak lump sum dengan harga tetap? Atau pekerja bangunan yang upahnya tergerus diam-diam karena perusahaan harus berhemat di mana-mana?
Di sinilah wajah manusiawi dari guncangan geopolitik itu muncul. Bukan di meja perundingan para diplomat, bukan di layar televisi yang menampilkan gambar-gambar ledakan di Isfahan atau Natanz , tetapi di wajah seorang mandor yang menelepon bosnya dan bertanya apakah proyek ini akan dilanjutkan atau dibekukan.
Di tangan seorang pekerja las yang memegang kalkulator kecil, menghitung apakah gajinya cukup untuk membeli beras ketika harga-harga mulai naik.
Bahkan sebelum konflik ini pecah, dunia konstruksi Indonesia di awal tahun 2026 sudah menghadapi tantangan berupa penyesuaian harga komoditas energi dan biaya logistik yang signifikan, dipicu oleh fluktuasi harga energi global dan kenaikan standar kualitas material nasional\. Kini, dengan Selat Hormuz yang tertutup, tantangan itu berlipat ganda.
Industri manufaktur dengan konsumsi energi tinggi seperti semen, baja, dan petrokimia akan menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin berat. Ini bukan sekadar prediksi. Ini adalah kondisi yang sudah mulai terasa.
Besi beton dan baja adalah material yang paling fluktuatif karena harganya dipengaruhi langsung oleh pasar komoditas global. Ketika harga minyak meroket akibat gangguan di Selat Hormuz, biaya produksi baja ikut melambung — dan harga per batang besi yang hari ini ada di gudang proyek bisa berbeda jauh dari harga yang tertera dalam kontrak yang ditandatangani enam bulan lalu.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani memperingatkan bahwa selain gangguan kelancaran perdagangan, Indonesia harus mengantisipasi kenaikan beban asuransi perdagangan dan penurunan volume kapal yang bisa melintas ke kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika akibat eskalasi konflik ini.
Beban asuransi yang naik berarti biaya impor yang lebih mahal dan banyak material konstruksi khusus, dari baja profil tertentu hingga peralatan mekanikal dan elektrikal, masih harus didatangkan dari luar negeri.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan bahwa bahkan gangguan sebagian saja sudah cukup memicu pengalihan rute kapal, pengetatan kapasitas angkutan laut, dan kenaikan ongkos logistik yang pada akhirnya merembet ke harga impor bahan baku maupun barang konsumsi.
Dalam konteks konstruksi, pengalihan rute kapal berarti waktu kedatangan material yang lebih panjang dan keterlambatan pasokan material adalah musuh bebuyutan dari jadwal proyek yang sudah ketat.
Para ekonom juga memperingatkan risiko depresiasi rupiah, tekanan terhadap cadangan devisa, serta meningkatnya subsidi energi dan harga pangan akibat gangguan di Selat Hormuz.
Pelemahan rupiah adalah pukulan ganda bagi kontraktor yang harus mengimpor peralatan: harga barang dalam dolar AS yang sudah naik akibat lonjakan permintaan, kini harus dibayar dengan rupiah yang semakin melemah. Efeknya adalah pembengkakan biaya yang berlapis dan tidak mudah diatasi hanya dengan negosiasi ulang kontrak.
Tantangan terbesar yang dihadapi dunia konstruksi Indonesia dalam situasi ini dapat diringkas menjadi tiga lapis kesulitan yang saling memperburuk satu sama lain.
Lapis pertama adalah guncangan harga material. Semen, baja, aspal, dan berbagai produk turunan minyak bumi yang menjadi komponen vital konstruksi akan mengalami tekanan harga yang signifikan.
Ekonom dari CELIOS Bhima Yudhistira memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus angka 100 hingga 150 dolar AS per barel jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut. Pada level itu, seluruh asumsi harga material dalam kontrak-kontrak konstruksi yang berlaku saat ini menjadi tidak relevan.
Lapis kedua adalah gangguan rantai pasok dan logistik. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz pasti akan berdampak pada rantai pengiriman barang dan menyebabkan kenaikan harga barang secara meluas. Dalam dunia konstruksi, gangguan rantai pasok bisa berarti proyek yang terhenti bukan karena kekurangan dana, melainkan karena material yang ditunggu tidak kunjung datang.
Lapis ketiga adalah tekanan keuangan dan kontraktual. Sebagian besar kontrak konstruksi di Indonesia menggunakan skema harga tetap yang tidak mengakomodasi kenaikan harga material secara otomatis.
Ketika biaya nyata di lapangan jauh melampaui angka dalam kontrak, kontraktor berada di persimpangan yang menyiksa: melanjutkan proyek dan merugi, atau menghentikan pekerjaan dan menghadapi denda.
Namun di setiap badai, ada jangkar yang bisa dipegang. Dan di tengah turbulensi ini, ada langkah-langkah nyata yang bisa diambil oleh pelaku industri konstruksi Indonesia untuk tidak sekadar bertahan, tetapi keluar dari krisis ini dengan fondasi yang lebih kuat.
Yang pertama adalah eskalasi klausul penyesuaian harga dalam kontrak. Sudah saatnya model kontrak konstruksi Indonesia, terutama untuk proyek-proyek pemerintah, memasukkan ketentuan penyesuaian harga secara otomatis apabila indeks harga bahan bakar atau material melampaui ambang batas tertentu. Praktik ini lazim di banyak negara dan melindungi semua pihak dari ketidakpastian yang tidak terduga.
Yang kedua adalah diversifikasi sumber pasokan material. Ketergantungan pada satu jalur pasokan — baik jalur geografis maupun jalur pemasok — adalah kerentanan yang tidak boleh dibiarkan. Industri konstruksi perlu secara aktif memetakan sumber-sumber material alternatif dari negara-negara yang tidak terdampak konflik Timur Tengah, sekaligus mendorong penguatan industri material konstruksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada impor.
Yang ketiga adalah percepatan pengadaan dan pembentukan stok strategis. Untuk proyek-proyek yang masih dalam fase awal, percepatan pengadaan material kritis sebelum harga naik lebih jauh adalah langkah yang bijaksana. Pemerintah pun perlu mempertimbangkan pembentukan cadangan strategis material konstruksi, sebagaimana dilakukan untuk bahan pangan dan energi.
Yang keempat adalah inovasi metode dan material konstruksi. Krisis adalah ibu dari inovasi. Tekanan harga material konvensional seperti baja dan semen seharusnya mendorong industri untuk lebih serius mengadopsi material alternatif , dari beton bertulang serat hingga baja daur ulang lokal , yang bisa mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap guncangan geopolitik.
Yang kelima, dan mungkin yang paling mendasar, adalah penguatan kapasitas manajemen risiko di seluruh lapisan industri konstruksi Indonesia. Dari kontraktor kelas kecil hingga BUMN konstruksi raksasa, kemampuan untuk membaca sinyal dini krisis global, menyiapkan rencana darurat, dan berkomunikasi secara transparan dengan pemberi kerja tentang dampak kondisi eksternal adalah kompetensi yang tidak bisa ditawar lagi di era ketidakpastian ini.

Dunia konstruksi Indonesia bukan tanpa pengalaman menghadapi guncangan. Krisis moneter 1998, pandemi Covid-19, lonjakan harga komoditas pasca-2021 — semua telah dilalui dengan segala kepedihan dan pelajarannya. Setiap kali, industri ini bangkit, beradaptasi, dan melanjutkan tugasnya membangun negeri.
Kali ini tidak akan berbeda , asalkan kita mau belajar dari sejarah, bergerak lebih cepat dari krisis, dan tidak menunggu instruksi dari atas ketika tindakan nyata sudah dibutuhkan sekarang juga.
Para pekerja konstruksi Indonesia — dari tukang batu di Merauke hingga insinyur struktur di Medan — bukan pion dalam papan catur geopolitik yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia.
Mereka adalah tulang punggung sebuah bangsa yang sedang membangun dirinya sendiri, satu tiang pancang demi satu tiang pancang, satu jembatan demi satu jembatan.
Mereka layak mendapat perlindungan yang lebih baik dari volatilitas global. Dan kita semua : pemerintah, kontraktor, perencana kebijakan, dan akademisi , memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa badai dari Selat Hormuz tidak merobohkan apa yang sedang kita bangun dengan susah payah di negeri yang kita cintai ini.
Penulis adalah Technical Advisor Nindya Learning Center , PT Nindya Karya
Referensi:
- https://money.kompas.com/read/2026/03/01/173000826/apindo-selat-hormuz-ditutup-perdagangan-indonesia-terancam-tersendat
- https://ekonomi.republika.co.id/berita/tb7tsn416/penutupan-selat-hormuz-ganggu-pasokan-minyak-dampaknya-bisa-sampai-dapur-rumah-tangga
- https://ekonomi.republika.co.id/berita/tb7f02370/harga-minyak-naik-akibat-konflik-timur-tengah-ongkos-logistik-dan-harga-barang-bisa-terdampak
- https://www.logistiknews.id/2026/03/01/konflik-timur-tengah-imbasnya-ke-aktivitas-logistik-nasional/
- https://garuda.tv/6-dampak-ditutupnya-selat-hormuz-ke-ekonomi-indonesia/
- https://indopostrust.id/2026/03/01/ceo-sci-setijadi-penutupan-selat-hormuz-berpotensi-naikan-harga-energi-internasional/
- https://www.liputan6.com/bisnis/read/6288837/biaya-impor-bbm-indonesia-bakal-naik-imbas-penutupan-selat-hormuz
- https://sobatbangun.com/harga-material-bangunan-terbaru/
- https://gemasi.id/update-harga-bbm-2026-prediksi-kenaikan-tarif-bahan-bakar-terbaru/
- https://www.triciptakarya.com/harga-material-bangunan-2025-diprediksi-naik/




