Bahlil Targetkan Mega Proyek Baterai USD 6 Miliar Groundbreaking Awal 2026
Pemerintah terus memacu akselerasi industri baterai nasional.
Konstruksi Media – Pemerintah terus memacu akselerasi industri baterai nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) megaproyek ekosistem baterai terintegrasi yang digarap konsorsium Huayou dan EVE Energy dapat terlaksana pada semester I-2026.
Proyek senilai USD 6 miliar ini merupakan kelanjutan dari Indonesia Grand Package yang sebelumnya digarap bersama LG, namun kini diteruskan oleh mitra strategis baru.
Kepastian ini menyusul ditekennya Framework Agreement antara Zhejiang Huayou Cobalt dan EVE Energy dengan perusahaan nasional seperti Antam, Indonesia Battery Corporation (IBC), serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.
Baca Juga:
Januari 2026: BP Tapera Kucurkan Rp912,4 Miliar untuk 7.312 Unit Rumah Subsidi
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (30/1).
Kelanjutan Ekosistem HLI Green Power
Bahlil menjelaskan bahwa proyek ini adalah estafet dari pabrik baterai PT HLI Green Power (JV LGES dan Hyundai) di Karawang yang telah beroperasi dengan kapasitas 10 GWh. Konsorsium Huayou kini bertanggung jawab menuntaskan sisa kapasitas 20 GWh untuk mencapai total target 30 GWh.
“Sebenarnya ini merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah dibangun, 10 giga pertama pada tahun 2023 yang sekarang sudah beroperasi,” jelas Bahlil.
Pembangunan akan dibagi secara strategis di dua wilayah utama:
- Hulu (Halmahera Timur, Maluku Utara): Pusat pengolahan nikel melalui fasilitas smelter, katoda, hingga pengolahan High Pressure Acid Leaching (HPAL).
- Hilir (Jawa Barat): Difokuskan untuk pembangunan pabrik sel baterai.
Sokong PLTS 100 GW dan Libatkan Pengusaha Daerah
Selain untuk kendaraan listrik (EV), output baterai ini diproyeksikan sebagai Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini akan menjadi tulang punggung Program 100 Gigawatt PLTS yang digagas Presiden Prabowo guna mempercepat transisi energi hijau di Indonesia.
Baca Juga:
Rampung Desember, Rano Karno Tinjau Proyek Embung Kebagusan Seluas 2,3 Hektare
Bahlil menekankan mega proyek ini wajib melibatkan pihak daerah. Ia mendorong kolaborasi dengan pengusaha setempat, baik di Jawa Barat maupun di Maluku Utara, mulai dari sektor penambangan, pembangunan smelter, hingga pabrik hilirisasi.



