Aria Sradha Pimpin HDII Jakarta 2025–2028, ini Prioritas Kepemimpinannya
Aria Sradha resmi terpilih sebagai Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jakarta periode 2025–2028.
Konstruksi Media – Aria Sradha resmi terpilih sebagai Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jakarta periode 2025–2028. Dalam kepemimpinannya, Aria menegaskan fokus awal organisasi adalah pembenahan internal, khususnya pada aspek keanggotaan.
“Beresin keanggotaan. Undang lagi anggota yang under radar. Sebenarnya banyak desainer bagus tapi belum mau menjadi anggota,” ujar Aria usai terpilih kepada Konstruksi Media di Jakarta Design Center, Jakarta, Jumat (9/1).
Baca Juga:
HDII Jakarta Gelar Musda XII di JDC, Bahas 3 Agenda Penting
Ia menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi HDII Jakarta adalah belum kuatnya urgensi sertifikasi profesi di sektor swasta. Kondisi tersebut membuat sebagian desainer interior belum melihat kebutuhan untuk bergabung dengan organisasi profesi.
“Karena di swasta enggak perlu ada sertifikat keahlian. Kliennya tidak menanyakan dan tidak menjadi syarat,” kata owner Tata Wastu Asia ini.
Meski demikian, ia menilai penguatan keanggotaan tetap menjadi fondasi penting bagi organisasi. Menurutnya, ketika basis anggota sudah solid, HDII Jakarta dapat melangkah lebih jauh.
“Kalau sudah kuat, cita-cita kita go international,” ujarnya.
Prioritas HDII Jakarta di Bawah Kepemimpinan Aria

Dalam waktu dekat, Aria menyebut HDII Jakarta akan memprioritaskan program kolaborasi dengan mitra industri. Ia menambahkan, kolaborasi tersebut akan berkembang seiring berjalannya waktu.
Baca Juga:
HDII Dorong Paradigma Baru dalam Desain Interior di Era Modern
Selain kolaborasi, Aria juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas anggota melalui pembekalan di luar kemampuan teknis desain.
“Banyak keahlian soft skill atau yang tidak mereka dapatkan di kampus. Misal pajak, legal, presentation, jadi di luar teknis,” ujarnya.
Aria berharap kepengurusan baru dapat mendorong kemajuan organisasi secara kolektif. Ia menekankan, keaktifan pengurus tidak dimaknai sebagai kewajiban yang memberatkan, melainkan bentuk kontribusi dan dedikasi terhadap organisasi.
“Bisa aktif itu sudah dedikasi untuk mereka. Mereka hanya will to help dan enggak pamrih,” pungkasnya.




