Info ProyekInfrastrukturNewsOPINI

Antara Debu Proyek dan Mimpi Peradaban: Renungan Syahdu Seorang Insinyur Menjelang World Engineering Day

Oleh: Ir. Amril Taufik Gobel, ST.,IPU.,ASEAN.Eng., Technical Advisor Nindya Learning Center

Konstruksi Media – ā€œThe engineer has been, and is, a maker of history.ā€ – James Kip Finch

Ketika saya menginjakkan kaki di proyek, debu tanah merah menempel lengket di sepatu boots yang telah setia menemani tiap peninjauan lokasi. Di balik helm kuning dan rompi keselamatan, ada pertanyaan yang selalu menggelayut: apakah yang kita bangun hari ini akan bertahan untuk generasi mendatang?

Pertanyaan ini bukan sekadar tentang ketahanan beton atau kekuatan baja, melainkan tentang tanggung jawab moral kita sebagai para perancang dan pembangun peradaban.

MenjelangĀ World Engineering Day for Sustainable DevelopmentĀ yang akan diselenggarakan pada 3-5 Maret 2026 di Jakarta olehĀ Persatuan Insinyur Indonesia (PII), saya merasakan getaran kebanggaan yang campur aduk dengan tanggung jawab yang besar.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah perayaan profesi yang telah membangun peradaban manusia.

Kepercayaan ini bukan sekadar kehormatan seremonial, melainkan pengakuan dunia terhadap kerja keras para insinyur Indonesia yang telah berjuang di balik layar, merancang jembatan yang menghubungkan pulau-pulau terpencil, membangun bendungan yang mengairi sawah rakyat, dan menciptakan sistem yang membuat kehidupan lebih layak.

Ketua UmumĀ PII,Ā Ilham Akbar Habibie, putra dari mendiang BJ Habibie yang mewarisi semangat ayahnya dalam memajukan dunia keinsinyuran, menyampaikan ajakan yang menyentuh hati.

Beliau tidak hanya berbicara tentang pameran dan seminar, tetapi tentang pembelajaran kolektif dan kontribusi nyata bagi kemajuan keinsinyuran Indonesia dan dunia. Ada semangat kolaborasi yang terasa kuat dalam ajakannya kepada seluruh pemangku kepentingan: dari industri, bisnis, pemerintahan, akademia, hingga media, untuk bersama-sama menyukseskan momentum bersejarah ini.

Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan sejarah. Dengan populasi mencapaiĀ 278 juta jiwaĀ dan pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak, kebutuhan akan infrastruktur semakin mendesak.

Namun di tengah hiruk-pikuk pembangunan ini, kita menghadapi tantangan yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu kita. Tantangan yang menuntut kita untuk berpikir ulang tentang hakikat pembangunan itu sendiri.

Dan inilah yang membuat tema World Engineering Day 2026 menjadi sangat relevan:Ā ā€œSmart Engineering for Sustainable Future through Innovation and Digitalizationā€ atauĀ rekayasa cerdas untuk masa depan berkelanjutan melalui inovasi dan digitalisasi.

Tantangan pertama yang menghadang adalah krisis iklim yang semakin nyata. Ketika seorang insinyur merancang sistem pondasi untuk gedung bertingkat, ia tidak lagi bisa mengandalkan data curah hujan sepuluh tahun terakhir.

Perubahan iklim telah mengubah segalanya. MenurutĀ Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, intensitas hujan ekstrem di Indonesia meningkat hingga 20 persen dalam dua dekade terakhir. Banjir Jakarta tahun 2020 yang menelan kerugian puluhan triliun rupiah adalah pengingat keras bahwa pendekatan lama tidak lagi memadai.

Saya tiba-tiba membayangkan wajah seorang ibu yang rumahnya terendam banjir setinggi dada. Matanya yang sembab bertanya pada saya, ā€œPak insinyur, kenapa ini bisa terjadi?ā€

Pertanyaan sederhana yang mengoyak hati. Di situ saya menyadari, setiap perhitungan teknis yang kita buat bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Tentang anak-anak yang harus kehilangan mainan favorit mereka, tentang pedagang kecil yang kehilangan barang dagangan, tentang lansia yang harus dievakuasi di tengah malam. Inilah yang dimaksud dengan peran sentral insinyur dalam mengatasi perubahan iklim, ketahanan pangan, transisi energi, dan inklusivitas pertumbuhan, prioritas yang selaras antara agenda insinyur Indonesia dengan tantangan global.

Tantangan kedua adalah kesenjangan infrastruktur yang masih menganga lebar antara Jawa dan luar Jawa. DataĀ Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan RakyatĀ menunjukkan bahwa indeks kualitas jalan di Papua hanya mencapai 54 persen, sementara di Jawa Barat sudah mencapai 82 persen.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari impian yang tertunda. Berapa banyak anak cerdas di pedalaman yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena jalan rusak? Berapa banyak ibu hamil yang kehilangan nyawa karena ambulans tidak bisa melewati jalan berlubang?

Di tengah tantangan ini, kita juga berhadapan dengan revolusi teknologi yang mengubah lanskap profesi kita.Ā Building Information Modeling, kecerdasan buatan, dan teknologi digital lainnya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun menurut survei Persatuan Insinyur Indonesia, hanya 35 persen insinyur konstruksi di Indonesia yang menguasai teknologi BIM dengan baik. Ketimpangan kemampuan ini menciptakan jurang baru antara mereka yang bisa beradaptasi dan yang tertinggal.

Inilah mengapa kehadiran Prof. Geoffrey Hinton, penerima Nobel Prize 2024 bidang Fisika yang dikenal sebagai ā€œGodfather of AIā€ dari University of Toronto, sebagai pembicara utama dalam World Engineering Day 2026 menjadi sangat penting.

Kehadirannya membuka jendela bagi para insinyur Indonesia untuk memahami bagaimana digitalisasi dan kecerdasan buatan akan membentuk masa depan profesi kita.

Ketua Panitia Pengarah WED 2026, Dandung Sri Harninto, dengan tepat menyatakan bahwa kepercayaan UNESCO-WFEO kepada PII sebagai tuan rumah bukanlah kebetulan. Ini adalah bukti keberhasilan diplomasi bidang keinsinyuran, sekaligus pengakuan bahwa profesi dan karya insinyur Indonesia telah diakui dunia.

Perjalanan panjang dari pengajuan proposal di WFEO 2025 General Assembly di Shanghai hingga penunjukan resmi sebagai tuan rumah adalah kisah tentang ketekunan dan visi. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengikut dalam konstelasi keinsinyuran global, tetapi telah menjadi pemimpin yang diperhitungkan, tidak hanya di kawasan ASEAN dan Asia, tetapi sebagai bagian penting dari komunitas insinyur dunia.

Lalu bagaimana kita menjawab tantangan-tantangan ini? Solusi pertama dimulai dari paradigma pembangunan berkelanjutan yang tidak lagi memandang alam sebagai objek yang bisa ditaklukkan, melainkan sebagai mitra yang harus dihormati.

Konsep rekayasa hijau atau green engineering harus menjadi napas dalam setiap desain kita. Saat merancang gedung, kita perlu mengintegrasikan sistem tangkapan air hujan, panel surya, dan ventilasi alami yang mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Inilah wujud nyata dari komitmen terhadap ekonomi hijau dan biru, kota pintar dan digitalisasi, serta teknologi berkelanjutan yang menjadi fokus World Engineering Day 2026.

Pendekatan berbasis alam atauĀ nature-based solutionsĀ juga terbukti efektif. Alih-alih membangun tanggul beton yang masif dan kaku, kita bisa merancang taman-taman kota yang berfungsi sebagai waduk resapan, menciptakan ruang hijau yang tidak hanya menahan air tetapi juga memberikan ruang bermain bagi anak-anak.

Proyek normalisasi Sungai CiliwungĀ yang mengombinasikan pendekatan struktural dan restorasi ekologi riparian adalah contoh nyata bahwa kita bisa berdamai dengan alam sambil memenuhi kebutuhan pengendalian banjir.

Untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur, kita memerlukan pendekatan yang lebih kreatif dan kontekstual. Tidak semua daerah membutuhkan jalan beraspal mulus seperti di Jawa.

Di beberapa wilayah, jalan dengan perkerasan beton bertulang atau bahkan teknologi jalan tanah yang distabilisasi dengan bahan lokal bisa menjadi solusi yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Sebagai contoh, pada proyek pembangunan jembatan gantung sederhana di Papua menggunakan material lokal dan melibatkan masyarakat adat dalam pembangunan. Hasilnya tidak hanya jembatan yang kokoh, tetapi juga pemberdayaan masyarakat yang memiliki kebanggaan atas karya mereka sendiri.

Ini sejalan dengan tujuan World Engineering Day untuk mendorong keberagaman dan inklusivitas, terutama untuk insinyur muda dan perempuan.

Dalam menghadapi revolusi teknologi, kita memerlukan komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat. Rangkaian acara World Engineering Day 2026 yang mencakup WFEO Council Meeting, konferensi dan pameran dengan fokus pada digitalisasi dan kota pintar, serta hackathon di mana mahasiswa teknik berkolaborasi mencari solusi untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, memberikan kesempatan emas bagi transfer pengetahuan lintas generasi dan lintas negara.

Persatuan Insinyur Indonesia perlu memperkuat program sertifikasi dan pelatihan yang tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada kepemimpinan, etika, dan pemahaman tentang dampak sosial dari pekerjaan kita.

Ketua Panitia Pelaksana WED 2026, Priyatno Bambang Hernowo, menekankan bahwa acara ini juga menjadi ajang untuk memamerkan inovasi dan proyek-proyek skala besar yang sejalan dengan standar Environmental, Social, and Governance (ESG).

Ini bukan sekadar pameran teknologi, melainkan demonstrasi nyata bagaimana insinyur Indonesia telah mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam karya mereka. Dari sistem transportasi massal yang mengurangi emisi karbon, hingga pembangkit listrik terbarukan yang memberdayakan komunitas lokal, setiap inovasi adalah bukti bahwa teknologi dan kemanusiaan bisa berjalan seiring.

Yang paling fundamental adalah pemulihan etika profesi. Di tengah godaan korupsi dan praktik markup yang merugikan kualitas bangunan, kita perlu kembali pada sumpah insinyur yang pernah kita ucapkan.

Setiap struktur yang kita rancang adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan bukan hanya kepada klien atau pemilik proyek, melainkan kepada masyarakat luas dan generasi mendatang. TragediĀ runtuhnya Jembatan MahakamĀ yang menewaskan puluhan orang adalah pengingat pahit tentang akibat dari kompromi terhadap standar keselamatan.

World Engineering Day yang pertama kali diputuskan melalui UNESCO General Conference pada 25 November 2019 atas usulan World Federation of Engineering Organizations memiliki sejarah yang unik.

Berbeda dengan konferensi internasional pada umumnya, perayaan ini tidak memiliki lokasi tunggal, melainkan perayaan global serentak yang diorganisir oleh UNESCO dan WFEO bersama mitra di seluruh dunia.

Dari perayaan virtual di masa pandemi 2021 dengan UNESCO Asia-Pasifik sebagai tuan rumah, streaming global 24 jam di Costa Rica tahun 2022, perayaan di Madrid tahun 2023, format global daring di Portugal tahun 2024, hingga perayaan di markas UNESCO Paris tahun 2025, setiap tahun membawa tema dan pendekatan yang berbeda.

Kini giliran Jakarta menjadi pusat perhatian dunia, membuktikan bahwa Indonesia siap memimpin diskusi global tentang masa depan keinsinyuran.

Sebagai seorang insinyur nyaris uzur yang telah mengabdi lebih dari tiga puluh tahun, saya percaya bahwa profesi kita adalah tentang cinta. Cinta pada tanah air yang menuntut kita untuk memberikan yang terbaik, cinta pada sesama yang menuntut kita untuk selalu mengutamakan keselamatan, dan cinta pada ilmu pengetahuan yang menuntut kita untuk terus belajar dan berinovasi.

Setiap kali saya melihat jembatan yang saya rancang dilalui ribuan orang setiap hari, saya merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan uang. Itulah makna sejati dari menjadi seorang insinyur.

World Engineering Day 2026 di Jakarta adalah momentum bagi kita untuk merenungkan kembali peran dan tanggung jawab kita. Bukan sekadar perayaan pencapaian, tetapi juga momen introspeksi dan pembaruan komitmen.

Amril
Antara Debu Proyek dan Mimpi Peradaban. DOk. Ist Amril Taufik Gobel

Kesempatan untuk berjejaring dengan para insinyur dari berbagai negara anggota WFEO, mendengarkan para tokoh dunia berbicara tentang masa depan digitalisasi untuk kemajuan peradaban manusia, dan berbagi pengalaman tentang praktik terbaik dalam rekayasa berkelanjutan, semua ini adalah investasi untuk masa depan profesi kita.

Kita adalah tulang punggung pembangunan bangsa, tetapi kita juga adalah penjaga masa depan yang berkelanjutan. Di tangan kita tergenggam takdir jutaan orang yang akan mendiami bangunan yang kita rancang, yang akan melintasi jembatan yang kita bangun, yang akan menikmati air bersih dari sistem yang kita ciptakan.

Mari kita bangun Indonesia bukan dengan arogansi teknologi, melainkan dengan kerendahan hati yang menghormati alam dan kebijaksanaan lokal. Mari kita ciptakan infrastruktur yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial dan bertanggung jawab secara ekologi.

Ajakan Ilham Akbar Habibie untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara selama tiga hari, mulai dari pameran, penghargaan, hingga seminar, adalah undangan untuk belajar bersama dan berkontribusi pada kemajuan keinsinyuran.

Ini bukan hanya tentang hadir secara fisik, tetapi tentang kehadiran pikiran dan hati kita dalam merumuskan solusi bagi tantangan global. Setiap insinyur Indonesia di berbagai sektor keahlian memiliki peran penting dalam menyukseskan agenda bersejarah ini.

Dan mari kita ingat bahwa setiap goresan pensil di atas gambar teknik adalah janji kepada kemanusiaan. Setiap perhitungan struktur adalah doa untuk keselamatan. Setiap inovasi yang kita ciptakan adalah warisan untuk generasi yang akan datang.

Di tengah sorotan dunia yang akan tertuju pada Jakarta pada 3-5 Maret 2026, kita memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa insinyur Indonesia tidak hanya mampu membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun jembatan antara teknologi dan kemanusiaan, antara kemajuan dan keberlanjutan, antara masa kini dan masa depan yang lebih baik.

ā€œScientists dream about doing great things. Engineers do them.ā€ – James A. MichenerĀ 

Penulis adalah Technical Advisor Nindya Learning Center dan Mantan Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia (2022-2025)

Ā 

Sumber Rujukan:

  1. https://www.un.org/en/observances/engineering-day
  2. https://sulteng.antaranews.com/berita/373514/pii-selenggarakan-world-engineering-day-2026-di-indonesia
  3. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTk3NSMy/jumlah-penduduk-pertengahan-tahun.html
  4. https://www.bmkg.go.id/iklim/informasi-perubahan-iklim.bmkg
  5. https://pu.go.id/berita/indeks-pembangunan-infrastruktur-indonesia-2023
  6. https://www.autodesk.com/solutions/bim
  7. https://www.pu.go.id/berita/normalisasi-ciliwung-kombinasi-pendekatan-struktural-dan-alam
  8. https://nasional.kompas.com/read/2023/01/26/14000081/kronologi-jembatan-mahakam-ulu-roboh-hingga-diselidiki-polisi

 

 

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

šŸ‘‘ Berlangganan Artikel Premium šŸ“° Iklan Display Produk (Majalah dan Website) šŸ“£ Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan