Ambisi Kuasai Selat Malaka, Ini Bocoran Strategi Pertamina
Konstruksi Media – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, Pertamina sebagai perusahaan energi memiliki sarana dan fasilitas bisnis yang lengkap dari hulu ke hilir. Hal ini menjadikan Pertamina sebagai salah satu perusahaan energi di dunia dengan portofolio bisnis yang menarik untuk mendatangkan mitra dan kerja sama.
Menurut Erick, proses restrukturisasi di Pertamina dengan pembentukan Subholding juga membuat Pertamina semakin gesit dalam menjalin kerja sama dan meningkatkan valuasinya dimata investor.
“Saya berharap Pertamina International Shipping dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya pemenuhan supply chain nasional dan menjadi global player dalam industri marine logistics,” ujar Erick Thohir pada saat peresmian Subholding Shipping dikutip Selasa, (17/8/2021).
- Menteri Ara Kaji Ulang Syarat Rumah Subsidi bagi Warga Berpenghasilan di Atas Rp7 Juta
- Meneropong Dinamika Resiprositas Ekonomi GlobalLesson Learned Tarif Resiprokal dan Dampaknya terhadap Mitra Dagang Dunia
- Per 3 April 2025, Hutama Karya Catatkan 122,24% Kenaikan Volume Kendaraan Lintasi JTTS
Direktur Utama PT Pertamina International Shipping Erry Widiastono menyampaikan, dalam menjalankan amanat dari Menteri BUMN tersebut, Pertamina International Shipping (PIS) sebagai Subholding Shipping telah mengamati dan siap menangkap peluang pasar internasional yang ada di Selat Malaka melalui strategi pengembangan bisnis logistik kemaritiman yang terintegrasi, yaitu bisnis bunkering di Nipa Kepulauan Riau.
“Pengembangan bisnis bunkering di perairan Pulau Nipa dan wilayah labuh jangkar di sekitar Selat Malaka sangat berpotensi memberikan pendapatan bagi negara mengingat lebih dari 100,000 kapal melewati Selat Malaka setiap tahunnya dimana lebih dari 90% kapal tersebut melakukan bunkering di Singapura dengan estimasi market size lebih dari 46 juta MT di tahun 2020 dan estimasi value sebesar USD 20 Miliar,” kata Erry.
“Dengan adanya potensi pengembangan bisnis bunkering di Selat Malaka ini, Nipa berpotensi menjadi blending hub dan anchorage area (mengambil pasar Singapura dan Tanjung Pelepas). Bisnis bunkering ini juga berpotensi untuk meningkatkan utilisasi terminal Pertamina Group (tj. Uban dan Sambu) serta potensi pemanfaatan storage 3rd party di Nipa dan Oil Tanking Karimun. Untuk menangkap peluang ini kami akan bersinergi dengan subholding lainnya dan juga mitra diluar Pertamina,” sambungnya.
Lebih lanjut Erry menyampaikan, saat ini Pertamina melalui PIMD telah berhasil melakukan penetrasi ke pasar bunkering di Singapura dengan market size 1.3 juta MT (3% total market size Singapura) di tahun 2020.
Selain itu, kata Erry, PIS juga telah melakukan kerja sama dengan world class company, Freepoint, melalui penyediaan Floating Storage Bunker sejak tahun 2019 hingga 2021 di Tanjung Pelepas dengan menggunakan kapal PIS Pioneer yang berukuran VLCC.
“PIS telah menyiapkan strategi bisnis bunkering ini dengan memperhatikan berbagai kesiapan yang perlu dilakukan antara lain :
• Component Supply, Pertamina International Marketing & Distribution (PIMD) yang merupakan anak perusahaan PT Patra Niaga sebagai Subholding Commercial & Trading (C&T) dan Subholding Refinery & Petrochemical (R&P) berperan sebagai penyedia bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi bunker yang comply dengan regulasi IMO 2020 (VLSFO 0.5% Sulphur)
• Blending Process, Di area Pusat Logistik Berikat (PLB) Nipa, PIMD berperan sebagai operator untuk memastikan proses blending bahan baku di atas floating storage facility yang disediakan oleh Subholding Shipping.
• Marketing / Penjualan, PIMD akan mengambil produk untuk kebutuhan konsumen international market dan berkolaborasi dengan induknya, Patra Niaga, terkait perizinan niaga umum (INU) dalam proses penjualan bunker di Perairan Nipa. Sementara Patra Niaga juga dapat mengambil produk untuk kebutuhan konsumen domestic market.
• Integrated Marine Logistics, PIS sebagai Subholding Shipping PIS akan berperan sentral dalam penyiapan armada serta sarana Marine Logistic dalam menggarap Bunker bisnis serta usaha marine dan kepelabuhanan di area Nipa termasuk melalui anak perusahaannya Pertamina Trans Kontinental (PTK) dalam mensupport untuk Pengadaan Kapal/Tongkang/Barge Boat yang dilengkapi flowmeter untuk digunakan dalam proses suplai bunker ke kapal customer.
Sarfas pendukung seperti Tugboat, fasilitas tambat serta pencegahan pencemaran untuk proses ship-to-ship di floating storage juga disupport oleh PTK. Selain itu PTK juga melaksanakan Kegiatan Keagenan (PTK sebagai Agen) bekerja sama dengan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) setempat, yaitu PT Asinusa Putra Sekawan dan PT Pelindo,” katanya.
Erry mengungkapkan bahwa pihaknya mendapat dukungan pemerintah untuk menjadikan kawasan Nipa di Kepulauan Riau sebagai sentral bisnis bunkering di jalur Selat Malaka guna mendapatkan pemasukan bagi negara dan meningkatkan perekonomian khususnya di kawasan tersebut.
“Selain mewujudkan semangat nasionalisme bahwa Indonesia melalui Pertamina mampu bersaing di kancah internasional,” tegasnya.
Erry menyebutkan bahwa dukungan dari Pemerintah melalui kementerian terkait dalam aspek regulasi dan flexibilitas akan sangat berarti untuk Pertamina mewujudkan pengembangan bisnis di wilayah Nipa Kepulauan Riau dengan memberikan layanan terbaik dan harga produk dan biaya pelabuhan yang lebih kompetitif sehingga akan memberikan daya tarik bagi pihak kapal yang selama ini mengisi bunker di perairan Singapura dan Malaysia.
“Pengembangan bisnis bunkering di Nipa akan menambah pemasukan bagi Indonesia secara lebih menyeluruh, baik dalam penjualan produk bunker maupun dalam penyediaan jasa pelayanan kepada kapal luar negeri yang selama ini dilayani di perairan Singapura,” ucapnya.
“Selain itu terdapat potensi bisnis lain yang dapat dihadirkan sebagai supporting ecosystem dalam mendukung bisnis bunkering seperti kegiatan Ship-to-Ship (STS), Blending, tank cleaning, penyediaan fresh water, surveyor lab, crewing facilities dengan bersinergi bersama perusahaan dalam negeri,” pungkasnya.***