Alasan Pentingnya Peta Gempa dan Teknologi Pemantauan Menurut ITB
Akademisi ITB menjelaskan urgensi adanya Peta Sumber dan Bahaya Gempa. Teknologi pemantauan juga diperlukan untuk memantau potensi gempa.
Konstruksi Media – Peluncuran ‘Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024’ di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (25/11), menjadi kesempatan bagi akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menjelaskan urgensi peta tersebut serta teknologi pemantauan struktur yang telah mereka kembangkan.
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menjadi yang pertama menanggapi. Saat ditanya soal pentingnya peta gempa, ia menyebut dokumen tersebut akan berdampak langsung pada standar bangunan nasional.
“Menurut saya ini sangat penting karena dengan adanya peta gempa ini akan muncul standar nasional Indonesia untuk infrastruktur yang akan dibangun,” kata dia kepada Konstruksi Media.
Baca Juga:
Guru Besar Sipil ITB Sebut Pembangunan Pabrik Turap Baja di Tangerang “Warung Ilmu” Bagi Mahasiswa
Di kesempatan yang sama, Prof. Mahsyur Irsyam, Guru Besar Teknik Sipil dan Perencanaan ITB yang terlibat dalam penyusunan peta, ikut menambahkan.
Ia menegaskan bahwa pekerjaan ini melibatkan berbagai keahlian di kampusnya. Menurutnya, proses penyusunan peta gempa membutuhkan kolaborasi lintas disiplin.
“Kami di ITB ada dari mulai sains sampai engineering. Hampir semua ini terlibat dalam penyusunan buku gempa ini,” ujarnya.
Teknologi Pemantauan Gempa Dikembangkan ITB

Pembahasan kemudian bergeser pada teknologi pemantauan struktur. Prof. Tatacipta menjelaskan konsep structural health monitoring, yakni sistem sensor yang dipasang pada struktur untuk memantau kondisi gedung atau jembatan.
“Strukturnya dipasangi sensor. Kalau ada pergeseran atau retak, itu yang dideteksi. Sensornya kirim sinyal ke kantor tim pemantau,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemantauan dilakukan secara berkelanjutan melalui layar pemantau tim teknis ITB sehingga informasi dapat diperoleh secara real time.
Baca Juga:
Kapan Harus Rental atau Beli Alat Berat? ini Rumus Jitunya
Implementasi Bukan Wewenang ITB

Meski begitu, untuk pemasangan di lapangan, Prof. Tatacipta menegaskan bahwa ITB tidak memegang kewenangan tersebut.
“Kalau dari sisi teknologi kita tidak ada isu. Tapi kalau harus memasang di sebuah jembatan, itu bukan wilayah ITB,” ujarnya.
Penjelasan itu dilanjutkan oleh Prof. Iswandi Imran, Guru Besar ITB lainnya. Ia menyebut teknologi pemantauan ini sebenarnya sudah mulai digunakan oleh pihak terkait, terutama pada infrastruktur jembatan.
“Untuk jembatan rasanya sudah cukup banyak yang diimplementasikan untuk memantau kesehatan sehari-hari dengan beban dinamis yang bekerja. Untuk gedung ini baru akan mulai sebenarnya,” kata Iswandi.
Keterangan ketiga akademisi ITB ini menggarisbawahi bahwa Peta Gempa 2024 bukan sekadar rujukan ilmiah, tetapi dasar penting bagi standar bangunan dan kesiapan teknologi pemantauan struktur di Indonesia.
Baca Juga:
Anggaran Rp48,8 Triliun Sudah Disetujui, Basuki Siap Lanjutkan Pembangunan IKN




