INFOMiningNews

Akselerasi Green Mining: Industri Tambang Indonesia Mulai Integrasikan Energi Bersih

Termasuk elektrifikasi armada guna mencapai target dekarbonisasi nasional.

Konstruksi Media – Transformasi menuju praktik green mining kini menjadi fokus utama sektor pertambangan Indonesia. Hal ini didorong oleh meningkatnya tuntutan dekarbonisasi global serta komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% pada tahun 2030.

Sektor pertambangan, yang berkontribusi sekitar 10,5% terhadap PDB nasional, kini berada dalam fase transisi penting. Tantangan terbesarnya adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil (diesel), terutama di lokasi tambang terpencil, guna meningkatkan efisiensi biaya dan menjaga keberlanjutan operasional.

Aditya Pratama, Ketua Komite Komunikasi & Government Relations APBI-ICMA, menekankan bahwa transformasi ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bisnis jangka panjang.

“Tantangannya adalah memastikan implementasi berjalan lebih cepat dan luas melalui kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan penyedia solusi teknologi,” ujar Aditya, Rabu (11/03/2026).

Implementasi green mining yang efektif memerlukan sistem energi menyeluruh. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area tambang dinilai sangat relevan untuk meminimalkan penggunaan diesel sekaligus memperkuat ketahanan energi di wilayah remote.

Baca juga: Liebherr Indonesia Tampilkan Solusi Pertambangan Terintegrasi di Mining Indonesia 2025

CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar, menjelaskan bahwa integrasi teknologi adalah kunci untuk menjaga kontinuitas operasi.

“Strategi yang efektif harus melihat karakter operasional setiap site secara spesifik. Integrasi antara energi surya, sistem penyimpanan baterai (BESS), dan sistem monitoring sangat penting agar perusahaan dapat menekan emisi tanpa mengorbankan efisiensi operasional,” jelas Jefferson.

Selain sektor pembangkitan, elektrifikasi armada operasional menjadi komponen krusial dalam menekan emisi gas rumah kaca global yang disumbang oleh industri pertambangan (saat ini mencapai 4–7%).

Menurut CEO SUN Mobility, Karina Darmawan, transformasi kendaraan listrik di area tambang harus dirancang sesuai dengan karakteristik medan dan intensitas penggunaan.
“Jika dirancang dengan tepat, elektrifikasi tidak hanya membantu menekan emisi, tetapi juga menciptakan sistem operasional yang lebih modern, efisien secara biaya, dan lebih terukur,” tambah Karina.

Ke depan, keberhasilan green mining di Indonesia akan bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Dalam mendukung visi ini, SUN telah mulai mengimplementasikan solusi energi terintegrasi yang mencakup PLTS, sistem baterai (BESS), serta infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik khusus untuk area pertambangan.

Melalui pendekatan terintegrasi ini, sektor pertambangan diharapkan mampu menjaga daya saing global sekaligus menjadi garda terdepan dalam mendukung ekonomi rendah karbon di Indonesia. (***)

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan