HeadlineINFONews

AI Picu Krisis Tukang, Gaji Pekerja Meroket

Dampak AI merembet ke berbagai sektor, memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan lesunya bursa kerja di sejumlah sektor.

Konstruksi Media – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai menghadirkan dampak berlapis bagi perekonomian global. Di satu sisi, AI memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan lesunya bursa kerja di sejumlah sektor. Di sisi lain, pembangunan masif data center justru melahirkan krisis baru: kelangkaan tenaga kerja terampil, khususnya tukang dan engineer, dengan gaji yang melambung tinggi.

Dampak AI merembet ke berbagai sektor, mulai dari kelangkaan chip AI dan semikonduktor konvensional yang mendorong kenaikan harga perangkat elektronik, hingga kekhawatiran krisis air dan listrik akibat konsumsi energi data center berskala raksasa.

Menurut laporan BloombergNEF pada Desember 2025, permintaan listrik di Amerika Serikat (AS) diproyeksikan melonjak hingga 106 gigawatt pada 2035 seiring pembangunan data center AI. Angka tersebut melonjak 36 persen dibanding proyeksi yang dirilis hanya tujuh bulan sebelumnya.

Namun, pesatnya pembangunan data center AI menghadapi kendala serius, mulai dari keterbatasan daya listrik, material, peralatan, hingga kekurangan tenaga kerja terampil seperti engineer, teknisi, dan tukang spesialis. Jika tidak teratasi, kendala ini berpotensi mengubah booming data center menjadi krisis besar, sebagaimana dikutip dari IEEE Spectrum, Senin (19/1/2026).

Kekurangan Engineer dan Tukang Listrik

Saat ini, tenaga kerja di bidang teknik jaringan listrik terus menyusut. Operator data center juga kesulitan mendapatkan tukang listrik terlatih. Kepala Operasional Applied Digital, Laura Laltrello, menyebut permintaan untuk engineer sipil, mekanik, dan listrik, serta posisi manajemen dan pengawasan konstruksi, melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Applied Digital sendiri tengah membangun dua kampus data center di dekat Harwood, North Dakota, yang nantinya membutuhkan daya hingga 1,4 gigawatt. Kondisi ini memaksa perusahaan memperluas sumber perekrutan tenaga ahli.

“Karena kami mengantisipasi kekurangan tenaga ahli teknik tradisional, kami mencari talenta dari berbagai industri,” ujar Laltrello.

Ia menyebut perusahaan merekrut tenaga berpengalaman dari sektor energi nuklir, militer, hingga kedirgantaraan. “Keahlian tidak harus berasal dari latar belakang data center,” tambahnya.

Untuk setiap satu engineer yang terlibat dalam desain dan pembangunan data center AI, puluhan posisi pendukung lainnya justru sulit terisi.

Berdasarkan Laporan Kondisi Data Center 2025 dari Asosiasi Operasi dan Manajemen Komputer (AFCOM), sebanyak 58 persen manajer data center menyebut operator multi-keterampilan sebagai kebutuhan utama, sementara 50 persen mencatat lonjakan permintaan engineer pusat data. Spesialis keamanan juga menjadi kebutuhan krusial.

Krisis Tukang di Depan Mata

Biro Statistik Pekerja AS memproyeksikan kebutuhan tenaga konstruksi menembus 400.000 pekerja hingga 2033. Kebutuhan terbesar berada pada tukang listrik, tukang pipa, infrastruktur daya, dan HVAC (pemanas, ventilasi, dan pendingin).

Sekitar 17.500 di antaranya merupakan engineer listrik dan elektronik—keahlian yang sangat dibutuhkan dalam desain, pembangunan, dan pengoperasian data center modern.

“Tantangannya bukan hanya jumlah pekerja, tetapi kecepatan dan intensitas permintaan,” ujar CEO Apolo dan penulis laporan AFCOM, Bill Kleyman.

Menurutnya, data center tumbuh bersamaan dengan sektor utilitas, manufaktur, energi terbarukan, dan infrastruktur jaringan listrik, yang semuanya berebut tenaga kerja terampil yang sama.

Proyek-proyek berskala raksasa seperti Stargate di Abilene, Texas—yang dikembangkan untuk Oracle dan OpenAI—menjadi contoh tekanan tersebut. Kampus data center AI ini nantinya membutuhkan daya hingga 1,2 gigawatt dan dibangun dalam tempo sangat cepat.

CEO Lancium, Michael McNamara, mengatakan perusahaannya mampu membangun infrastruktur data center AI berdaya satu gigawatt dalam setahun. Namun, klien teknologi besar kini menargetkan pembangunan satu gigawatt per kuartal, bahkan per bulan.

Percepatan ini membutuhkan puluhan ribu engineer, teknisi HVAC, tenaga listrik, hingga tukang spesialis integrasi mekanik, listrik, dan pipa (MEP).

“Permintaan untuk setiap kategori meningkat cepat dan signifikan, jauh melampaui suplai,” kata Direktur Pendidikan Uptime Institute, Matthew Hawkins.

Kampus Turun Tangan

Perguruan tinggi teknik dan program pendidikan terapan mulai menjadi ujung tombak pemenuhan kebutuhan tenaga kerja data center. Di Texas, sejumlah program pelatihan bermunculan, termasuk Magister Rekayasa Sistem Data Center di SMU Dallas dan program teknisi data center AI berdurasi 12 minggu di Dallas College.

Vendor dan asosiasi industri juga aktif menutup kesenjangan talenta. Microsoft menjalankan Data Center Academy, Google dan Amazon menawarkan pelatihan serta program magang, sementara Siemens menargetkan pelatihan 200.000 teknisi listrik dan pekerja manufaktur listrik hingga 2030.

“Setiap universitas kini menggeser kurikulum untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan infrastruktur digital,” kata Laltrello.

Gaji Tukang Melonjak

CEO Nvidia Jensen Huang sebelumnya telah menyoroti peluang besar bagi pekerja teknis di era AI.

“Jika Anda tukang listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu, akan dibutuhkan ratusan ribu tenaga untuk membangun pabrik dan data center,” ujar Huang.

Ia menyebut sektor kerajinan terampil akan mengalami lonjakan berlipat ganda setiap tahun. Investasi Nvidia senilai US$100 miliar ke OpenAI menjadi salah satu pemicunya. Secara global, belanja modal data center diproyeksikan mencapai US$7 triliun pada 2030, menurut McKinsey.

Satu fasilitas data center seluas 250.000 kaki persegi saja dapat menyerap 1.500 tenaga konstruksi selama pembangunan, dengan mayoritas berpenghasilan hingga US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar per tahun, belum termasuk lembur. Menariknya, pekerjaan ini tidak mensyaratkan gelar sarjana.

Kekhawatiran krisis tenaga kerja ini juga disuarakan CEO BlackRock Larry Fink dan CEO Ford Jim Farley. Mereka menilai ambisi besar pembangunan AI berpotensi tersendat jika krisis tukang dan teknisi tidak segera diatasi. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan